fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Minggu, 7 Maret 2021  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Menyambut APRIM 2005 : Ketika Astronom Asia Pasifik Berkongres di Bali
Ninok Leksono

Astronom sering disebut the happy few, himpunan ”sedikit yang bahagia”.

Langit dan bintang-bintang telah mempersatukan astronom seluruh dunia. Observatorium Bosscha di Lembang menjadi saksi, berapa banyak sudah astronom asing dari berbagai negara yang pernah bertamu, mengamati, dan mengerjakan riset di sana. Hal yang sama terjadi di observatorium lain, mulai dari Siding Spring di Australia, Jodrell Bank di Inggris, Mount Palomar di Amerika, hingga Cerro-Tololo Inter-American Observatory di Cile.

Secara berkala, para astronom profesional dunia bersidang di forum majelis umum International Astronomical Union (IAU). Dalam lingkup lebih kecil, ada pula forum tingkat regional, seperti Asia Pasifik atau Amerika Latin. Seperti mengulang pertemuan regional tahun 1981, astronom Asia Pasifik tanggal 26-29 Juli 2005 kembali bertemu dalam Asia-Pacific Regional IAU Meeting (APRIM) yang berlangsung di Bali.

APRIM 2005, yang diikuti oleh 350 peserta dari 32 negara, sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Penyelenggara Dr Premana W Premadi dari Departemen Astronomi ITB, Selasa (19/7) siang di Jakarta, diharapkan bisa menjadi forum untuk memperkuat hubungan astronomi, baik melalui penggalangan kerja sama kelembagaan maupun riset di antara para astronomnya.

Jadi, selain menjadi ajang untuk melaporkan kemajuan ilmu astronomi di negara peserta, APRIM juga ingin dimajukan sebagai forum untuk tukar-menukar pengalaman dalam menjalankan riset dan pendidikan serta mengembangkan jaringan di antara astronom Asia Pasifik. Premana mengakui, meski ada perbedaan tingkat kemajuan di antara negara-negara peserta, semangat untuk bekerja sama banyak disuarakan.

Di sela-sela APRIM Ke-9 di Bali ini, akan diagendakan pembicaraan mengenai kemungkinan menerbitkan jurnal astronomi regional atau pemanfaatan instrumen (teleskop) kecil. Hal yang juga akan dikaji peluangnya antara lain adalah berbagi (sharing) data hasil pengamatan teleskop besar/teleskop angkasa. Memang masih tersisa pertanyaan, apakah Indonesia memiliki cukup astronom untuk ikut proyek seperti Square Kilometer Array (SKA).

”Untuk kita sendiri di Indonesia, selain keinginan bersama seperti disebut di atas, ada juga keinginan untuk dapat dukungan lebih luas untuk Observatorium Bosscha dan perkembangan astronomi di Indonesia secara lebih luas,” kata Premana menambahkan.

APRIM 2005 yang Komite Ilmiahnya diketuai oleh astronom senior indonesia, Dr Winardi Sutantyo, antara lain akan mendengar topik seperti perkembangan mutakhir penelitian aktivitas matahari dan bintang-bintang dalam berbagai panjang gelombang (disampaikan oleh Alexander Stepanov dari Observatorium Pulkovo), atau tentang materi antarbintang dan pembentukan bintang (oleh Yasuo Fukui dari Universitas Nagoya).

Melihat sekilas makalah yang akan disajikan, rentang topik APRIM 2005 amat luas, mulai dari sains keplanetan, evolusi bintang, galaksi Bima Sakti, hingga struktur skala besar/kosmologi. Mengakomodasi keragaman kemajuan di kawasan Asia Pasifik, APRIM juga menyediakan sesi untuk membahas astronomi dengan teleskop ukuran kecil. Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah sesi pendidikan dan popularisasi astronomi.

Perkembangan astronomi

Seiring dengan penyelenggaraan APRIM 2005, baik juga disampaikan perkembangan astronomi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dr Moedji Raharto dari Departemen Astronomi ITB melihat meningkatnya kunjungan ke Observatorium Bosscha, bertambahnya jumlah mahasiswa, dan meningkatnya peserta Olimpiade Astronomi sebagai salah satu indikator naiknya minat masyarakat terhadap astronomi.

Meski meningkat, tentu saja pendidikan astronomi masih tetap bercorak the happy few tadi, mengingat di Indonesia pendidikan ini masih hanya ada di ITB, yang kini dikelola staf berkekuatan 12 orang yang berjenjang S3, seorang guru besar, dan empat berjenjang S2. Pendidikan ini menghasilkan rata-rata lima lulusan setiap tahunnya.

Dr Moedji mencatat, APRIM 2005 mencerminkan kiprah astronom Indonesia setelah generasi Prof Dr Bambang Hidayat dan Dr Jorga Ibrahim, yang bisa disebut sebagai generasi pertama astronom asli Indonesia setelah pendidikan ini lahir di Indonesia.

Dengan skala yang ada, memang tidak setiap lulusan lalu bergabung di Departemen Astronomi ITB, atau melanjutkan karier sebagai astronom profesional. Sejumlah alumnus memilih melanjutkan karier di lembaga lain, seperti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), di Planetarium Jakarta, di perguruan tinggi, dan bahkan di lembaga ilmiah di luar negeri.

Untuk riset, astronomi—yang masih banyak dipersepsikan sebagai sains yang tidak terkait langsung dengan urusan sehari-hari—mungkin belum mendapatkan anggaran yang dipandang memadai. Ini membuat pengembangan sarana amat lamban, padahal dalam skala dunia, teleskop angkasa Hubble saja kini telah disusul dengan teleskop Spitzer yang bisa menangkap sinar bintang dari galaksi yang paling jauh.

Di tengah keterbatasan yang ada, Dr Moedji masih punya keyakinan, meski instrumen yang ada di Bosscha berukuran kecil, alat rekam observasi dan aksesori yang ada masih memberi peluang bagi astronom Indonesia untuk menyumbangkan karya ilmiah. Terus munculnya karya ilmiah inilah yang juga dijadikan dasar oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Dr Ir Kusmayanto Kadiman dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Prof Dr Ir Satryo S Brodjonegoro untuk terus mendukung astronomi di Indonesia.

APRIM 2005 menjadi bukti bahwa astronomi di Indonesia eksis dan diakui sumbangan ilmiahnya (scientifically respected). Kalau tidak, mustahil IAU—induk organisasi astronomi dunia berpusat di Paris yang berdiri tahun 1919 dan kini beranggotakan lebih dari 9.000 astronom dari 67 negara—mengizinkan APRIM diselenggarakan di sini.

Yang tidak kalah menarik, APRIM 2005 juga meneguhkan bahwa ternyata visi yang di awal abad ke-20 diletakkan oleh KAR Bosscha tetap aktual hingga hari ini, bahwa Nusantara ideal untuk astronomi, dan bahwa astronomi yang mencari hakikat manusia di alam semesta akan semakin penting di masa-masa yang akan datang.

Bosscha pantas dikenang setiap kali berlangsung kegiatan besar astronomi di Indonesia karena tanpa visinya, dan tanpa kedermawanannya, sulit dibayangkan bagaimana astronomi akan tumbuh dan berkembang di sini. Usahawan Belanda yang kaya raya karena mengembangkan perkebunan teh di Pangalengan, Jawa Barat, inilah yang pada tahun 1920 mendirikan Himpunan Astronomi Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging, NISV) dan kemudian membelikannya sarana penting untuk aktivitasnya, berupa teropong refraktor dobel Zeiss yang setelah hampir 80 tahun masih terus berbakti.

Jarak antara KAR Bosscha dan APRIM 2005 memang delapan dekade, tetapi jarak sejauh itu tidak berarti peredupan, sebagaimana penampakan cahaya bintang dan galaksi yang meredup ditelan jarak triliunan kilometer. Visi Bosscha tampaknya justru akan terus menjadi obor dan inspirasi bagi astronom Indonesia, atau siapa pun yang mengapresiasi ikhtiar luhur untuk memahami semesta dan segala isinya.

Sumber : Kompas (25 Juli 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 25 Juli 2005

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2021 LIPI