fisik@net lihat situs sponsor

    Rabu, 10 Februari 2010  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
domain
e-data
buku
prestasi
kontak
 
  » Penghargaan
 
  » Cara link
 
  » Mengenai kami
 
sponsor
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Jonathan, Peraih Gelar The Absolute Winner
Siprianus Edi Hardum

Tubuhnya tinggi besar. Matanya menyorot tajam mata lawan bicaranya. Namun, bicaranya cenderung hati-hati. Suaranya halus. Dari pembawaan dan gaya bicaranya, ia adalah orang rendah hati. Itulah Jonathan Pradana Mailoa, kelas III SMAK 1 BPK Penabur Jakarta.

"Saya memang bisa mengerjakan semua soal-soal tadi. Namun, tidak yakin yang saya kerjakan semuanya benar. Memang soal-soalnya cukup sulit," katanya kepada wartawan, sesaat setelah mengikuti ujian fisika teori di Sports Hall Nanyang International of Education (NIE), Singapura, Senin (10/7). Pengakuan yang sama ia sampaikan setelah mengikuti ujian fisika eksperimen fisika di tempat yang sama, Rabu (12/7).

Sungguh berbeda dengan tim OFI dari China. Mereka mengaku bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Soal-soal yang disodorkan mudah, kata mereka. "Saya bisa mengerjakannya. Soal di Olimpiade Fisika tingkat Asia lebih sulit," ujar Wang Xingze, peserta OFI 2006 asal China, didampingi empat peserta China lainnya ketika dicegat sesaat sesuai ujian fisika teori di tempat dan pada hari yang sama.

Itulah Jonathan. Ketika hasil OFI ke-37 di Singapura, pada 8 - 17 Juli 2006 diumumkan, Minggu (16/7) pagi, namanya disebut sebagai peraih medali emas dengan nilai tertinggi dalam ujian teori dan eksperimen.

Dalam ujian teori dan eksperimen ia meraih nilai 29,7 dan 17,10, lebih tinggi daripada nilai saingan utamanya dari China, Yang Suo Long, yang mencatat 29,6 (untuk teori) dan 16,45 (eksperimen).

Berdasarkan nilai itu, anak pertama pasangan Edhi Mailoa dan Sherlie Darmawan itu berhak mendapat gelar The Absolute Winner, pencapaian yang langka dalam event internasional. "Jonathan adalah 'Man of The Year' dalam bidang ilmu fisika. Dia tercatat sebagai pelajar SMA yang terpintar di dunia," kata Koordinator Publikasi OFI dari Departemen Pendidikan Nasional, Hidayat Muchtar dari Singapura kepada Pembaruan melalui telepon, Minggu (16/7).

Mencatat Sejarah Baru

Selain meraih gelar juara dunia, Jonathan juga berhasil me-raih medali emas, The Best ASEAN Student, serta dinobatkan sebagai peserta yang mempunyai kemampuan terbaik dalam bidang penguasaan eksperimen fisika (The Best Experiment Result). Jonathan berhasil mencatat sejarah baru. Gelar juara dunia ini merupakan gelar pertama kalinya bagi Indonesia sejak mengikuti olimpiade serupa pada 1993. "Tak heran jika suasana gemuruh dan sorak sorai menggema di seluruh ruangan audito- rium ketika Jonathan diumumkan sebagai juara dunia olimpiade fisika," kata Hidayat.

Jonathan yang membawa bendera Indonesia ukuran kecil di tangan kanannya langsung melambaikan bendera ke atas. Sesat kemudian, President National Technological University (NTU) Dr SU Guaning memberikan kado dan sertifikat pemegang Juara Dunia kepadanya. Semua mata tertuju kepadanya.

Sebanyak 386 peserta OFI dari 83 negara peserta (tiga negara sebagai peninjau), pembina, pengamat, panitia olimpiade, pelajar Indonesia yang kuliah di Singapura, serta wartawan yang hadir dalam acara penyerahan medali dan gelar kebanggaan itu tidak henti-hentinya bertepuk tangan.

Jonathan, kelahiran Jakarta, 20 September 1989 itu mengatakan, meraih gelar juara dunia OFI hanyalah keberuntungan semata. "Saya tidak menduga dapat gelar absolute winner, soalnya saya hanya menargetkan emas,'' katanya, seusai acara penutupan OFI ke-37 di Auditorium Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Minggu kemarin.

Tiga peserta OFI Indonesia lainnya Pangus Ho (SMA Kristen 3 Penabur Jakarta), Irwan Ade Putra (SMA Negeri 1 Pekanbaru), dan Andy Oktavian Latief (SMA Negeri 1 Pamekasan, Jawa Timur), pada ajang tersebut masing-masing meraih satu medali emas. Satu peserta Indonesia lainnya, M Firmansyah Kasim (SMP Islam Athirah Makasar), meraih satu medali perak. Perolehan empat medali emas itu melebihi yang ditargetkan semula yang hanya tiga medali emas.

China sebagai Tim OFI yang sejak awal diragukan mendapat emas paling banyak, benar-benar membuktikan memperoleh emas paling banyak. Mengirim lima peserta, masing-masing meraih medali emas. Taiwan, Korea dan Amerika Serikat, sama-sama meraih dua emas. Hongaria satu emas.

Induk Ilm

Keberhasilan Jonathan dan teman-temannya itu berkat latihan di bawah bimbingan Yohanes Surya sejak Oktober 2005 di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.

Mereka berlatih enam hari kerja, dari pukul 08.00 WIB - 17.00 WIB. Dalam latihan itu mereka menyelesaikan soal-soal fisika teori dan soal-soal eksperimen. Berbagai buku fisika tingkat tinggi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), maupun dari universitas-universitas Berkeley, Princeton, Moskwa, dan India, menjadi santapan mereka setiap hari. Ditambah dengan soal-soal Olimpiade Fisika Asia dan ajang internasional seperti IPho (International Physic Olympiad) dan APho (Asia Physic Olympiad), tahun-tahun sebelumnya. "Setahun ini, cuma buku fisika yang dibaca," kata Jonathan, sebagaimana dikutip Hidayat.

Di sela-sela kesibukannya melalap fisika, Jonathan membaca komik. Bahkan dalam dua bulan terakhir, menjelang OFI ke-37, ia bermain games dan play station. Sebelumnya, selama delapan bulan, dia dilarang bermain games.

Olimpiade Fisika Internasional (OFI) ke-38 akan digelar di Isfahan, Iran pada 13-22 Juli 2007. Ketika ditanya targetnya dalam OFI mendatang, Jonathan menjawab tidak menargetkan apa-apa. Ia memilih melanjutkan studinya, mengejar ketertinggalannya dalam mata pelajaran matematika dan kimia.

Dr SU Guaning dalam acara Pembukaan OFI ke-37 di Auditorium Nanyang Technological University, Singapura, Minggu (9/7) mengatakan, fisika adalah induk semua ilmu. Fisika merupakan kunci mengetahui jenis dan gejala alam. "Dengan fisika orang dapat mengetahui dan mengerti dasar-dasar alam, serta perubahan alam," katanya.

Pada acara yang sama Menteri Pendidikan Singapura Tharman Shanmugaratnam mengatakan, fisika selalu menjadi sentral dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Fisika menjadi dasar untuk mengetahui hubungan antara benda, waktu, dan tempat. Ilmu pengetahuan dan ide digabungkan dapat mengahasilkan teknologi yang membantu manusia untuk membuat hidupnya lebih baik.

Prof Chen Ning Yang dari China, peraih Nobel bidang fisika 1957, yang hadir sebagai pemantau dalam OFI di Singapura itu, mengatakan fisika adalah dasar untuk membuat hidup manusia lebih baik. Ia mencontohkan Singapura yang maju dalam segala hal, terutama teknologi. "Itu semua tidak terlepas dari fungsi fisika," ujarnya.

Bagaimana dengan Indonesia yang belakangan ini sering tertimpa musibah bencana alam? Mengacu pada penjelasan para pakar tersebut di atas mengenai fungsi fisika, dapat disimpulkan, bencana alam yang banyak memakan korban jiwa, karena orang Indonesia tidak memanfaatkan ilmu fisika untuk mendeteksi gejala alam. Atau, bisa juga "orang Indonesia" tidak tahu memanfaatkan ilmu fisika. Tentu tidak adil kalau kita lantas berharap kepada Jonathan dan teman-teman untuk "mem-perbaiki" Indonesia yang tercinta ini.

Sumber : Suara Pembaruan (17 Juli 2006)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 22 Juli 2006

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2010 LIPI