Artikel-artikel populer :
Indonesia Raih Emas di Olimpiade Astronomi
Reh Atemalem Susanti
Lorenz VG da Silva dari SMA Semesta, Semarang, Jawa Tengah meraih emas dalam Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika (IOAA) di Chiang Mai, Thailand. Olimpiade pertama yang digelar berbarengan dengan perayaan ulang tahun ke-80 Raja Bhumibol Adulyadej itu diikuti 21 negara.
Lorenz mengakui tim dari India sebagai pesaing utama. "Banyak yang bilang mereka pintar dan hebat," kata siswa yang bercita-cita masuk Teknik Kimia ITB itu kepada pers setibanya di Tanah Air kemarin.
Selain Lorenz, Muhammad Iqbal Bakti Utama (SMA Plus Pekanbaru, Riau) dan Rizky Rahmayanti (SMA Negeri 1 Ponorogo) masing-masing meraih perak, Sulistyowati (SMA Negeri 1 Kebumen, Jawa Tengah) meraih perunggu dan Janu Kusuma (SMA Negeri 1 Solo, Jawa Tengah) beroleh honorable mention.
Selama ajang ini berlangsung pada 30 November-9 Desember, mereka didampingi oleh team leader, Dr Chatief Kunjaya dan Dr Taufiq Hidayat, juga Dr Suhardja D. Wiramihardja sebagai pengamat. Ketiganya dosen di Program Studi Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung.
Menurut Chatief, ada empat kategori yang dipertandingkan, yaitu teori singkat, uraian, pengamatan, dan praktek pengolahan data. Dalam pertandingan, Indonesia berada pada posisi keenam dengan total nilai 223 di bawah Thailand (juara umum dengan tiga emas dan dua perak, total nilai 254,4), India (tiga emas/237,2), Polandia (dua emas, tiga perak/236,6), Cina (dua emas, dua perak, dua perunggu/235,4), Rumania (satu emas, dua perak/225,4).
Ia mengakui tingkat kesukaran soal yang diujikan cukup tinggi. "Mahasiswa tingkat strata 1 belum tentu bisa mengerjakan soal itu," ujar Chatief.
Tahun depan, kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional Bambang Wasito Adi, ajang serupa akan digelar di Bandung, dengan tuan rumah ITB.
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Sungkowo Mudjiamanu menjanjikan beasiswa untuk seluruh peserta lomba. Semua biaya kuliah ditambah biaya hidup akan ditanggung pemerintah, "Untuk peraih emas bisa masuk perguruan tinggi negeri yang diinginkan."
Sumber : Koran Tempo (11 Desember 2007)