fisik@net lihat situs sponsor

    Rabu, 10 Februari 2010  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
domain
e-data
buku
prestasi
kontak
 
  » Penghargaan
 
  » Cara link
 
  » Mengenai kami
 
sponsor
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Ketika Bumi Menyalip Mars
Wuragil

Oposisi ini terjadi karena bumi dalam orbitnya yang lebih kecil menderu cepat di antara matahari dan mars. Karena mars berlawanan arah dengan matahari, planet merah itu terlihat begitu terang di langit malam bumi.

Mars terbit di ufuk timur ketika matahari mulai terbenam, ia lalu menanjak tinggi ke atas kepala sekitar tengah malam, lalu beranjak ke barat seiring dengan matahari yang terbit kembali. Pada lepas tengah malam hari-hari ke depan, mars kira-kira akan sama terangnya dengan bintang tercerah di langit, sirius. Bedanya, sirius mengedipkan banyak warna, sedangkan mars hanya kemerahan yang lebih stabil.

Namun, pemandangan istimewa ini hanyalah sementara. Begitu bumi sudah berhasil menyalip mars dalam gerak revolusi mengelilingi matahari, bayang-bayang merah mars akan kembali kabur. Setahun ke depan, mars tidak akan lebih terang daripada banyak bintang di langit yang tidak menarik.

Oposisi antara matahari, bumi, dan mars akan terjadi kembali pada 2010 (tiap dua tahun sekali). Tapi saat itu, jaraknya tidak akan sedekat akhir tahun ini. Beberapa oposisi memang menempatkan mars lebih jauh dari posisinya saat ini terhadap bumi, tapi bisa juga lebih dekat. Yang pasti, jarak persis seperti pada malam-malam ini bakal terulang paling cepat 2016 nanti.

Dekat, tapi...

Pada jarak 88 juta kilometer, orbit mars sejak 18 Desember lalu adalah yang terdekat dari bumi hingga 2016 nanti. Cukup dekat, tapi jangan pernah membayangkannya akan sebesar bulan purnama.

Diameter mars kurang dari seperseratus diameter bulan penuh yang terlihat dari bumi. Jika disandingkan secara langsung, diameter mars memang hampir dua kali diameter bulan. Posisinya harus dua kali jarak bulan dari bumi kalau ingin terlihat sama besarnya dengan bulan. Itu artinya, bukan 88 juta km, tapi 800 ribu km.

Karena dekatnya posisi itu, banyak teleskop dipastikan mengarah ke mars, si planet merah itu, sepanjang Desember sampai Januari nanti. Tapi ingat, butuh kesabaran dan ketekunan untuk bisa mengamati hingga detail permukaannya. Sering kali atmosfer bumi tidak stabil (kedap-kedip bintang menandakan turbulensi dalam atmosfer kita), dan badai debu di mars tidak jarang mengaburkan hasil pengamatan.

Sumber : Koran Tempo (26 Desember 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 28 Desember 2007

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2010 LIPI