Artikel-artikel populer :
Tjandra Heru Awan, Pecipta Alat Peraga Sederhana, Namai Karyanya Molina, Molibandul dan SS10N
Nedi Putra AW
Pelajaran Fisika kadang menjadi momok bagi siswa, namun Tjandra Heru Awan BA, guru SMAN 10 Malang berusaha membuat mata pelajaran yang penuh dengan rumus dan perhitungan ini menjadi mudah dengan alat peraga sederhana dari bahan bekas. Kreativitas ini dirangkum dalam buku dan DVD yang diluncurkan di SMAN 10 Kota Malang, Kamis (22/11)
Ketertarikan Tjandra Heru Awan untuk membuat alat peraga ini berawal saat dirinya duduk di bangku SMP dan SMA. Pelajaran eksakta terutama fisika sangat menarik minat pria kelahiran 56 tahun lalu ini. “Tapi saya kecewa karena para guru biasanya hanya bicara teori saja,” ungkapnya.
Rasa penasaran akhirnya mendorong Tjandra untuk segera mempraktikkan teori yang didapatnya. Misalnya, saat gurunya bercerita tentang gaya adhesi dalam gelas tertutup yang menyebabkan air tidak tumpah jika dibalik, ia langsung mencobanya di rumah.
Pria yang semula ingin menjadi insinyur ini mencoba melanjutkan pendidikan di Institut 10 November Surabaya. Namun atas anjuran kakaknya agar lebih mudah mencari pekerjaan akhirnya Tjandra memilih kuliah di Program Diploma III Jurusan Matematika di IKIP Malang (sekarang UM-red) dan merampungkannya tahun 1975.
Setelah mengajar di beberapa tempat, ternyata banyak materi pelajaran fisika yang tidak banyak tersedia alat peraganya. Jika ada, jumlahnya terbatas dan harganya mahal “Padahal pembelajaran fisika justru lebih efektif dengan percobaan,” jelasnya.
Sejak itu, Tjandra yang tidak sempat melanjutkan pendidikan strata satu ini mulai merekayasa sendiri berbagai alat peraga dari bahan yang mudah didapat maupun barang bekas.
Misalnya, avometer yang digunakan untuk membaca kuat arus, tegangan dan hambatan (ampere, volt dan ohm) dari sebuah rangkaian atau peralatan listrik dibuat hanya dari fotokopi yang diperbesar berkali-kali dari ukuran normal display avometer bekas sedangkan jarumnya dari sedotan, lalu ditambah magnet kecil dan lidi. “Yang penting membuatnya harus tetap sesuai teori agar alat bekerja dengan benar,” tambahnya.
Bahkan ayah empat anak ini memberi nama unik untuk setiap hasil karyanya. Seperti Molina yang merupakan kependekan dari Mesin Listik Sederhana. Ada pula Molibadul, sebuah materi motor listrik dari bahan daur ulang yang membuatnya meraih Juara Kreativitas Guru SMP tingkat Nasional LIPI 2002.
Serta sebuah mesin uap dari pompa angin penjual mie ayam, kaleng susu bekas dengan nama cukup keren Mesiu SS-10 N yang berarti Mesin Uap Sangat Sederhana dari SMAN 10 sebagai penghargaan atas sekolah yang menaunginya selama dua tahun terakhir.
Pria yang sudah tanggal beberapa giginya ini berharap generasi sekarang dapat meneruskan kreativitasnya ini. “Coba bayangkan berapa juta atau bahkan miliar rupiah yang dapat dihemat dengan membuat alat-alat ini,” pungkasnya. /Nedi Putra AW
Sumber : Surya (23 November 2007)