fisik@net lihat situs sponsor

    Rabu, 10 Februari 2010  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
domain
e-data
buku
prestasi
kontak
 
  » Penghargaan
 
  » Cara link
 
  » Mengenai kami
 
sponsor
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Anak Pedagang ATK Jagoan Fisika
Intan Ungaling Dian

TIM Olimpiade Fisika Indonesia menjadi juara 2 Asian Physics Olympiad ke-9 yang berlangsung di Mongolia, China, 20-28 April 2008. Mereka memboyong tiga medali emas, satu perak, satu perunggu, dan empat honorable mention. Indonesia berada di bawah China yang meraih 8 medali emas, tapi lebih baik dibanding 16 negera lainnya, seperti Taiwan, Thailand, dan Singapura.

Salah satu pelajar dari Jakarta yang meraih medali emas adalah Kevin Winata (16). Kevin adalah siswa kelas I SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta. Berkat prestasinya itu, pada Juli 2008 dia akan diikutkan dalam kejuaraan dunia International Physics Olympiad (IPhO) ke-39 di Vietnam. Ia akan bersaing dengan pelajar dari 83 negara di dunia.

Meraih medali emas tentu merupakan kebanggaan bagi Kevin Winata. Apalagi, ia membawa nama bangsa di kancah internasional. Sebelum ke Mongolia, Kevin berjuang meraih medali emas di tingkat provinsi dan nasional dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Berbagai hadiah diraihnya, seperti piagam penghargaan, piala, dan uang.

Untuk hadiah uang, anak pedagang alat tulis dan kantor (ATK) di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, itu tidak menghambur-hamburkannya. Hadiah Rp 6 juta dari OSN lalu ia tabung. Begitu juga dengan uang Rp 15 juta hadiah peraih emas di APhO dari Depdiknas, ia simpan di bank. ”Untuk biaya kuliah,” ujarnya setelah mendapat ucapan selamat dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Restoran Ahyat, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (30/4).

Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Wong Tjan Fie dan Oen Lilianawati ini ingin bersekolah di luar negeri sehingga harus mengumpulkan biaya. ”Belum tentu nanti dapat beasiswa sekolah di luar negeri. Jadi uang harus ditabung. Kalau bisa dapat universitas yang bagus di luar negeri,” katanya.

Ia meraih emas di Mongolia berkat bimbingan dari alumnus TOFI, yaitu Hendra Kwee dan Yudistira Virgus. Edy Gunanto, Yoseph, dan Rachmat Widodo Adi (alm) yang meninggal sebelum keberangkatan TOFI ke Mongolia juga menggembleng Kevin selama enam bulan.

Menurut Kevin, fisika adalah mata pelajaran yang mudah dipahami. ”Fisika itu menyenangkan,” kata penyuka novel ini. Ia bilang, belajar fisika berarti belajar tentang kehidupan di sekitar. Belajar tentang alam berarti belajar tentang fisika tanpa harus dengan rumus berbelit, melainkan berlandaskan konsep yang kuat.

Tapi, jangan meminta Kevin untuk menyenangi pelajaran yang mengharuskannya menghafal. Dia ”alergi”. ”Menghapal itu pelajaran yang paling susah. IPS itu banyak menghapalnya, seperti sejarah, belajarnya harus ekstra keras,” tuturnya.

Walaupun enam bulan terakhir ini setiap hari harus bergelut dengan soal-soal fisika, Kevin belum menentukan apakah nanti dia akan menjadi seorang fisikawan atau saintis. ”Masih dipikir-pikir, masih banyak pilihan,” tuturnya.

Sumber : Kompas (3 Mei 2008)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 3 Mei 2008

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2010 LIPI