fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Selasa, 12 Desember 2017  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Hari Tanpa Bayangan di Bali
I Putu Dedy Pratama (Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar BMKG)

Beberapa hari kebelakang masyarakat merasa gerah akan kondisi cuaca di Bali. Banyak masyarakat yang mengaitkan dengan peningkatan aktivitas Gunung Agung. Magma di dalam gunung yang bergerak naik dianggap sebagai penyebabnya. Apakah hal ini benar? Sebelum mengaitkan dengan Gunung Agung ada baiknya kita mengetahui kondisi rata-rata suhu di Provinsi Bali pada bulan Oktober.

Data klimatologi 20 tahun (1996-2015) di Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar mencatat bahwa suhu rata-rata di kota Denpasar semakin meningkat dari bulan Agustus yang puncaknya terjadi pada bulan November. Bulan Oktober juga merupakan bulan dengan penyinaran Matahari dan penguapan tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kondisi gerah ini didukung dengan meningkatnya pertumbuhan awan di atas Pulau Bali yang menyebabkan radiasi panas Matahari yang dipantulkan oleh Bumi ke angkasa di pantulkan balik oleh awan yang berada di atasnya. Faktor lainnya adalah pergerakan semu Matahari dimana pada setiap pertengahan Oktober posisi Matahari di wilayah Bali tepat tegak lurus berada di atas kepala pada waktu kulminasi atau dikenal dengan istilah jejeg ai. Hal ini dikenal sebagai hari tanpa bayangan.

Hari tanpa bayangan umumnya dikenal pada daerah yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Namun, setiap tempat sebenarnya mempunyai hari tanpa bayangannya sendiri. Hal ini karena adanya gerak semu tahunan Matahari. Gerakan semu ini adalah pola perpindahan posisi Matahari cengan kecenderungan condong ke utara yang puncaknya pada saat Matahari berada pada posisi titik balik utara yaitu sekitar 22 Desember dan condong ke selatan saat Matahari berada pada titik balik selatan yaitu sekitar 21 Juni setiap tahunnya.

Pada pengamatan di hari biasa, saat pagi hari, bayangan jatuh di sebelah barat, sementara pada sore hari jatuh di timur, kemudian saat tengah hari, Matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan sangat pendek. Peristiwa ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan benda-benda berbentuk tipis tegak lurus di sekitar kita, seperti tiang bendera atau dengan menegakkan tongkat. Tunggu waktu saat terjadinya hari tanpa bayangan dan amati bayangan yang terjadi pada tongkat atau tiang bendera tersebut. Dalam waktu yang singkat kurang dari lima menit kita tidak akan melihat bayangan dari benda tersebut dengan syarat benda tersebut berdiri tegak. Fenomena hari tanpa bayangan memiliki hari dan tanggal yang berbeda-beda tergantung pada posisi garis lintang kota dan posisi deklinasi matahari di langit di setiap wilayah.

Dalam tiga hari ini yaitu 14, 15, dan 16 Oktober 2017 ini wilayah Denpasar akan mengalami hari tanpa bayangan. Hal ini karena pada waktu transitnya posisi Matahari berada pada posisi 90 derajat dikenal sebagai titik zenith. Posisi ini merupakan akibat dari gerak semu tahunan Matahari.

Hari tanpa bayangan di tentukan oleh posisi lintang suatu tempat. Untuk kondisi ini kita asumsikan posisi titik tengah Pulau Bali berada pada kota Denpasar yaitu pada koordinat lintang 8,68 derajat lintang selatan. Posisi ini disebabkan oleh pertemuan antara deklinasi Matahari terhadap lintang tempat yang berada pada koordinat 8,68 derajat lintang selatan. Deklinasi Matahari adalah sudut yang dibentuk oleh posisi Matahari (dalam hal ini saat Matahari memasuki fase transit) dengan arah utara. Fase transit adalah waktu tengah hari dihitung dari waktu Matahari terbit hingga terbenam. Ketika posisi Matahari berada titik zenith yaitu titik tepat di atas kepala kita dikenal sebagai transit utama. Jadi wilayah yang juga dilalui oleh garis 8,68 derajat lintang selatan akan mengalami hari tanpa bayangan pada waktu yang sama.

Ketika kita berdiri tegak di luar ruangan nanti pada tanggal 14, 15, dan 16 Oktober 2017 ini pada pukul 12:05 WITA akan tidak ada bayangan. Fenomena ini mirip dengan hari tanpa bayangan di wilayah yang dilalui oleh garis khatulistiwa/ekuator pada saat ekuinoks 23 September 2017. Namun, untuk daerah Denpasar fenomena Matahari tepat berada di atas kepala terjadi pada 14, 15, dan 16 Oktober 2017. Selanjutnya setelah tanggal 16 September 2017 Matahari seolah-olah bergerak ke arah selatan untuk wilayah Denpasar. Berdasarkan lokasi lintang, kota Denpasar berada pada koordinat 8.21 LS dan pada waktu transitnya di tanggal 14 Oktober 2017 Matahari akan berada pada sudut deklinasi -8.20, sehingga membuat bayangan pada waktu transit nantinya sangat sedikit.

Peristiwa ini akan terulang kembali pada tanggal 25, 26, dan 27 Februari 2018 nanti. Pergerseran ini akan terjadi maksimal 1 hari setiap tahunnya. Perbedaannya dengan peristiwa 14, 15, dan 16 Oktober 2017 adalah setelah 27 Februari 2018 nanti Matahari seolah-olah bergerak ke arah utara.

Pergerakan Matahari tahunan ini digambarkan dalam suatu grafik yang dikenal dengan nama Analemma. Peristiwa ini terjadi karena sumbu rotasi Bumi yang miring 23,5 derajat terhadap Matahari. Jika kita perhatikan setiap hari posisi Matahari di waktu (jam menit detik) dan tempat yang sama dalam satu tahunnya akan membentuk seperti angka delapan. Grafik Analemma menyatakan posisi semu Matahari terhadap lintang lokasi di Bumi. Fenomena ini adalah peristiwa tahunan biasa, namun sangat jarang diketahui banyak orang.

Jika kita perhatikan setiap harinya dalam jam, menit, dan detik yang sama, posisi Matahari membentuk seperti angka delapan. Tidak hanya Matahari yang memiliki analemma, benda-benda langit lain juga membentuk pola tahunan seperti angka delapan ini. Analemma suatu benda langit dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu:

  1. Kemiringan sumbu rotasi Bumi / sudut inklinasi (inklinasi bumi sebesar 23,5o)
  2. Eksentrisitas bumi / jumlah ketika orbitnya melenceng dari lingkaran sempurna, 0 berarti lingkaran sempurna, dan 1,0 adalah parabola, dan tidak lagi berupa orbit tertutup (untuk bumi eksentrisitas sebesar 0,0167)
  3. Sudut yang dibentuk antara apse line (garis hubung antara titik terdekat dan terjauh suatu planet dengan matahari) dengan solstices (posisi matahari dengan deklinasi terbesar dan terkecil, untuk bumi pada 21 Juni dan 21 Desember)

Pertemuan antara posisi deklinasi Matahari terhadap lintang suatu tempat berarti Matahari berada pada titik Zenith. Titik Zenith adalah titik yang tepat berada di atas pengamat yaitu posisi Matahari pada saat kulminasi atas.

Posisi kota Denpasar yang berada pada lintang 8,68 LS jika dicocokan dengan deklinasi Matahari -8,68 terjadi dua kali hari tanpa bayangan dalam satu tahunnya yaitu sekitar pertengahan Oktober dan akhir Februari setiap tahunnya.

Gambar: Analemma (sumber: http://www.ipgp.jussieu.fr/~tarantola/Icons/Analemma/analemma.jpg)

» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi ke Facebook
» berbagi ke Twitter
» markah halaman ini
revisi terakhir : 15 Oktober 2017

 

PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
- sejak 17 Agustus 2000 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI