fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 23 September 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Olimpiade Fisika di Turki
    Oleh : TOFI
    Senin, 9 Juli 2001 (20:46 WIB) dari IP 202.159.33.210

    Ditengah-tengah situasi politik Indonesia yang tidak menentu ini,
    putra-putra Indonesia berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam Olimpiade
    Fisika Internasional (OFI) ke 32 di Antalya, Turki 28 Juni - 6 Juli 2001
    dengan merebut 2 medali perak dan 3 medali perunggu.

    Olimpiade Fisika Internasional adalah pertandingan fisika antar pelajar
    terbaik SMU seluruh dunia. Dalam pertandingan ini para peserta diberikan 3
    soal fisika teori dan 1 soal fisika eksperimen yang harus diselesaikan
    masing-masing dalam waktu 5 jam.

    Di OFI ke 32 ini untuk soal eksperimen, peserta diminta menghitung
    percepatan gravitasi bumi dan indeks bias cairan dengan memanfaatkan cairan
    yang berputar. Dalam menentukan indeks bias cairan, peserta boleh
    menggunakan metode difraksi.

    Untuk soal teori, soal pertama dibagi 4 bagian: menganalisa kerja Klystron
    (suatu alat untuk meningkatkan tegangan), membandingkan diameter molekul
    cairan dan uap air, menganalisa bentuk gelombang dalam rangkaian listrik
    kompleks, dan menentukan ketidak pastian diameter molekul yang keluar dari
    suatu kotak berisi gas.

    Soal kedua tentang bintang ganda. Disini peserta diminta untuk menghitung
    posisi bintang ganda dan menghitung jarak terdekat orbit bintang kecil
    ketika melontarkan materi ke pusat bintang besar.

    Sedangkan soal ketiga adalah mengenai generator magnetohidrodinamika.
    Disini peserta menghitung gaya hambat magnetik akibat gerakan air raksa
    dalam suatu tabung yang diberi medan magnetik. Juga peserta diminta untuk
    menghitung perbedaan fase dari cahaya yang merambat pada cairan yang
    bergerak ini dibandingkan pada cairan yang diam.

    Dalam OFI yang diikuti oleh 68 negara ini, Indonesia merebut posisi ke 12
    dengan 2 perak dan 3 perunggu. Sekitar 35 negara tidak mendapat medali
    apa-apa. Posisi pertama diraih oleh China dengan 4 emas 1 perak, disusul
    Rusia dengan 3 emas 2 perak. Emas diberikan oleh mereka yang mendapat
    minimum 42 poin, perak 36 poin dan perunggu 30 poin. Nilai tertinggi diraih
    oleh Daniyar Nurgaliev dari Rusia dengan 47,55 poin. Peserta-peserta
    Indonesia berturut-turut meraih: 40,5 poin (Rezy Pradipta - SMU Taruna
    Nusantara Magelang); 38,4 Frederick Petrus (SMU Sutomo I Medan); 35,0
    Anthony Iman (SMU Pelita Harapan Karawaci, Tangerang); 33,0 Imam Makhfuds
    (SMUN 5 Surabaya) dan 31,5 Rizki Muhammad Ridwan (SMUN 5 Bandung).

    Hasil yang diperoleh Indonesia ini lebih baik dari hasil yang diperoleh
    tahun 2000 di Leicester dimana kita meraih 4 perunggu dan 1 honorable
    mention.

    Keberhasilan Tim Indonesia ini tidak lepas dari peran Depdiknas dengan
    beberapa sponsor a.l. CAR Insurance, Lippo Group, AAA Securities dan Mc.
    Kinsey.

    Ada cerita menarik dibalik hasil-hasil yang dicapai oleh siswa kita diatas:

    Dalam OFI peserta yang mendapat emas adalah mereka yang memperoleh nilai 90%
    dari rata-rata 3 nilai teratas, Perak 78 % dan perunggu 65 %.

    Dalam penilaian hasil pekerjaan siswa, mula-mula para juri memberi nilai.
    Jika penilaian ini dirasakan tidak adil, maka para pimpinan tim berhak
    memprotes dalam proses moderasi. Biasanya disini terjadi negosiasi nilai.
    Mereka yang mampu memberikan argumen bagus, dapat memperoleh tambahan
    nilai.

    Dalam moderasi eksperimen kita mampu menaikkan nilai siswa-siswa kita
    sebanyak 1-2 poin. Saat hendak moderasi teori kami mendapat kabar bahwa tim
    China hanya meraih nilai maksimal sekitar 43 poin dan menurut pimpinan tim
    China mereka tidak mungkin naik banyak, paling-paling 1-2 poin (biasanya
    tim China ini jadi acuan). Dengan beberapa tim lain kami coba perkirakan 3
    nilai rata-rata tertinggi adalah sekitar 44 poin dari maksimum 50 poin.
    Berarti untuk emas dibutuhkan 39 poin, perak 35 poin dan perunggu 28 poin.

    Saat itu posisi siswa kita Rezy 35,55; Frederick 36,6; Anthoni 34,9; Imam 33
    dan Rizki 31,5. Imam dan Rizki tidak mungkin dinaikkan ke nilai 35 karena
    hasil penilaian juri sudah cukup baik dan mereka sudah aman pada posisi
    perunggu. Pada moderasi teori 1 kami berhasil menaikkan Anthoni 0,1 poin.
    Dengan posisi ini berarti kita sudah dapat 3 perak dan 2 perunggu. Perak
    Anthoni aman sampai nilai rata-rata tertingginya 46,0 yang menurut perkiraan
    kami saat itu sukar dicapai oleh peserta manapun.

    Perhatian kemudian kami fokuskan ke Rezy dan Frederick. Pada moderasi teori
    3 kami hanya bisa mem?push? Frederick sampai 38,4. Rezy bisa mendapat
    tambahan 0,95 berarti nilai Rezy sekarang 36,5. Pada moderasi teori 2 kami
    melihat celah bahwa Rezy bisa naik. Kami berusaha keras meyakinkan para
    juri. Setelah berdebat sekitar 30 menit akhirnya kami berhasil tembus hingga
    40,5 poin.

    Saat keluar dari moderasi kami cukup senang karena kemungkinan dapat emas
    besar. Tiba diluar kami bertemu dengan pimpinan lain. Pimpinan Iran
    mengatakan bahwa satu siswa mereka berhasil menyodok dengan 46,55. Kami
    mulai was-was. Terlebih ketika mendengar bahwa satu siswa Rusia berhasil
    menyodok dengan nilai lebih tinggi lagi 47,55 poin. Akhirnya setelah satu
    siswa Belarus berhasil tembus 46,2, punahlah harapan kami. Ini berarti
    rata-rata 3 nilai tertinggi menjadi 46,85 dan batas emas 42, perak 36
    serta perunggu 30. Melayanglah 1 emas dan 1 perak kita.

    Yohanes Surya


    YOHANES SURYA: TAK LELAH BERJUANG UNTUK FISIKA
    Oleh : Pembelajar.Com
    Jumat, 28 Juni 2002 (18:19 WIB) dari IP 140.105.16.2

    Perjuangan pria kelahiran 38 tahun silam ini amat unik: memasyarakatkan ilmu fisika yang sering
    dianggap "menakutkan" bagi murid-murid sekolah. Kini pengasuh "Fisika itu Asyik" di koran Kompas
    ini mulai memetik hasil. Salah satunya, keberhasilan Indonesia dalam Olimpiade Fisika
    Internasional.

    Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia [TOFI] ini, berhasil membawa timnya memboyong dua perak dan
    tiga perunggu dari International Physics Olympiad di Antalya, Turki. Dalam ajang internasional
    tersebut, Indonesia hanya mengirim lima orang pelajar dan kelima-limanya berhasil merebut medali.

    Berikut wawancara dengan Yohanes Surya PhD, yang meraih Best Graduate Cum Laude di College of
    William Mary, Virginia USA di Bidang Fisika tahun 1994.

    Selamat atas keberhasilan tim Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional (OFI) di Turki
    kemarin.
    Terima kasih. Meski merebut dua medali perak dan tiga medali perunggu, bagi kami amat
    membanggakan. Urutan ke-12 dari 68 negara. Jauh lebih bagus daripada OFI tahun 2000 di Leicester,
    Inggris. Saat itu kita meraih empat perunggu dan satu gelar kehormatan. Keberhasilan ini tak
    lepas dari dukungan Depdiknas serta para sponsor.

    Apa, sih, yang dipertandingkan di OFI?
    Ya, mirip olimpiade sesungguhnya. Tapi yang diadu adalah kemampuan fisika. Pesertanya adalah
    pelajar-pelajar terbaik dari sekolah menengah seluruh dunia. Tiap peserta mengerjakan 3 soal
    fisika teori dan 1 soal fisika eksperimen dalam waktu 5 jam. Proses pertandingan berlangsung dua
    hari. Sedangkan selebihnya acara sosialisasi antar-peserta. Termasuk wisata bersama keliling
    Turki.

    Ada pengalaman menarik pada OFI tahun ini?
    Ya, sebetulnya waktu itu salah satu anggota tim, Rezy Pradipta, nyaris mendapat nilai tertinggi
    untuk meraih medali emas. Sayang, Rezy salah membaca soal. Ya, jelas, jawabannya pun salah.
    Padahal kalau tidak salah baca, dia bisa mengerjakannya. Akibat kesalahan itu dia kehilangan
    poin. Jadinya dapat perak. Itu hanya salah satu dari sekian pengalaman yang kami dapat selama
    bertanding. Semua itu jadi pelajaran buat mereka yang akan ikut tahun depan. Kami jadi makin
    sadar, persiapan mental amat penting. Karena sepandai-pandainya mereka, kalau sudah gugup duluan,
    buyarlah konsentrasinya.

    Siapa saja, sih, anggota tim ke OFI ini?
    Ada lima orang. Yakni Rezy Pradipta (SMU Taruna Nusantara Magelang), Frederick Petrus (SMU Sutomo
    I Medan), Anthony Iman (SMU Pelita Harapan, Tangerang), Imam Makhfuds (SMUN 5 Surabaya), dan
    Rizki Muhammad Ridwan (SMUN 5 Bandung).

    Pakai kayak semacam pelatnas dulu enggak?
    Benar. Selama 8 bulan penuh kami gembleng mereka di Universitas Pelita Harapan. Kami menyewa satu
    apartemen di sini untuk berkumpul. Tiap hari mulai pukul 08.00 sampai 01.00 mereka harus
    mengerjakan soal-soal fisika. Dari yang teori sampai pada aplikasi dan eksperimennya. Saya
    berikan juga trik dan tips mengerjakan soal cepat tapi benar. Juga cara menjaga stamina. Meski
    jadwalnya padat, mereka malah menikmatinya.

    Sudah berapa kali Indonesia mengikuti even seperti itu?
    Sudah sembilan kali sejak pertama kali diadakan tahun 1993 di Amerika Serikat. Pertama kali ikut
    kita dapat 1 medali perunggu dan 1 gelar kehormatan.

    Kenapa fisika masih saja dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan oleh murid-murid
    sekolah?
    Ha ha ha... masak sih? Yang bisa kita lakukan pertama kali adalah menghilangkan pendapat fisika
    itu identik dengan rumus dan hafalan. Fisika memang penuh rumus. Setiap materi bahkan punya rumus
    lebih dari satu. Tapi bukan berarti kita harus menghafalkan sebegitu banyak rumus. Sebab, kalau
    kita memahami teorinya lebih dulu, kita dengan sendirinya akan tahu rumusnya.

    Kunci mempelajari fisika adalah paham dan mengerti. Kalau kita sudah memahami dan mengerti
    tentang elektromagnetik misalnya, kita tidak perlu lagi menghafal rumus-rumus elektromagnetik
    yang banyak itu. Cukup hafalkan satu rumus pokok, selebihnya kita bisa kutak-katik untuk menjadi
    berbagai rumus untuk menjawab soal-soal yang berbeda. Yang terpenting, sering-seringlah berlatih
    mengerjakan soal-soal fisika dan turunannya.

    Mengapa Anda tertarik pada fisika? Kenapa bukan ilmu yang lainnya?
    Pada dasarnya saya mencintai lingkungan sehari-hari yang ternyata tanpa kita sadari menyimpan
    banyak potensi untuk memahami fisika. Segala segi kehidupan manusia dan kejadian alam juga tidak
    lepas dari fisika. Artinya, dengan mempelajari fisika, kita bisa memahami banyak hal di alam ini.

    Contohnya?
    Ketika kita membuka lemari es, kenapa yang terasa dingin kok kaki kita lebih dulu? Sedangkan kaki
    keatas justru hangat? Padahal frezeer justru terletak di atas, kan? Itu karena bobot udara dingin
    itu lebih berat daripada udara hangat di sekitar lemari es. Nah karena beratnya, maka ketika
    lemari es dibuka, udara dingin langsung "jatuh" mengenai kaki kita.

    Contoh menarik lain adalah permainan Halilintar di Dunia Fantasi. Kenapa bentuknya seperti tetes
    air? Kenapa tidak bulat saja? Ternyata jika dibuat berbentuk bulat, maka penumpangnya pada suatu
    titik akan mengalami enam kali percepatan gravitasi bumi. Akibatnya, penumpang bisa pingsan.
    Semua permainan itu memakai prinsip-prinsip fisika untuk kenyamanan penumpangnya.

    Apa saja kegiatan Anda untuk mempopulerkan fisika?
    Saya sering memberikan pelatihan pada guru-guru Fisika se Jawa dan Bali. Salah satu saran saya,
    jangan menulis sebuah rumus di papan tulis ketika memulai pelajaran. Sebab, bisa saja rumus itu
    diaplikasikan dalam bentuk gambar atau contoh eksperimen yang pada kenyataannya lebih menarik
    perhatian anak-anak. Dari sinilah, saya berharap kelak anak-anak dan masyarakat akan berkata
    "Fisika itu asyik!" Saya senang sekali ketika beberapa guru menghubungi saya dan mengabarkan
    bahwa anak-anak didiknya sudah mulai menyukai fisika.

    Selain itu saya juga mengasuh rubrik Fisika Itu Asyik di Harian Kompas dan bahasan tentang fisika
    di Majalah Colour. Bahasan fisika itu juga sudah saya buat semenarik mungkin dalam bentuk kartun
    sehingga anak-anak sekalipun bisa langsung memahami teori yang saya jelaskan.

    Apakah sejak kecil Anda sudah tertarik dengan fisika?
    Semasa kecil, saya tinggal di dekat perkampungan kumuh di Klender, Jakarta Timur. Saya lebih
    banyak main di sawah. Sama sekali belum terbersit dalam pikiran untuk menggeluti ilmu fisika.
    Baru ketika duduk di SMA Negeri 12 Jakarta, saya mulai jatuh cinta pada fisika. Saya ingat sekali
    bagaimana almarhum Pak Handoyo, guru fisika saya menjelaskan teori tanpa harus membuat kening
    kita berkerut-kerut. Beliau pinter sekali membuat contoh-contoh menarik dalam menjelaskan suatu
    teori. Dari situlah saya mulai menemukan daya tarik fisika.

    Kebetulan, saya juga suka hitung-hitungan dan ngutak-ngatik angka, sehingga saat masuk jurusan
    fisika di Fakultas Matematika & IPA di UI, saya makin terpacu mempelajari fisika. Apalagi ketika
    saya menemukan buku-buku fisika yang bagus-bagus. Kemudian saya mulai banyak berlatih mengerjakan
    soal mulai dari fisika dasar sampai aplikasinya tiap kali ada waktu luang di sela-sela kuliah.
    Saya lulus dari UI tahun 86. Dua tahun kemudian saya melanjutkan kuliah ke College of William
    Mary, Virginia, AS. Saya meraih gelar master dan doktor.

    Bagaimana sih resep belajar yang benar sehingga kita bisa pintar?
    Prinsipnya, kalau ingin menguasai suatu ilmu, kuasai dulu konsep dasarnya. Seperti ketika
    mempelajari tentang Newton, saya kembali dari awal kenapa bisa ada rumus Newton dan ide itu
    datangnya dari mana? Dari yang dasar seperti itulah, saya terpacu untuk lebih semangat lagi
    mempelajari konsep Newton yang sebenarnya.

    Penghargaan apa saja yang sudah Anda dapat lewat fisika?
    Penghargaan resmi tidak ada. Namun sejak Indonesia ikut OFI, saya sering diminta jadi juri
    lomba-lomba fisika dan seminar-seminar di tingkat nasional maupun internasional. Saya juga
    diminta menjadi anggota Olimpiade Fisika Internasional dan Ketua Tim Fisika Indonesia untuk
    Olimpiade Fisika di Kanada tahun 1997.

    Anda juga sering membuat karya ilmiah dalam bentuk buku ya?
    Ya. Ada beberapa buku Fisika atau IPA yang saya buat dengan ulasan menarik dan mudah untuk
    dimengerti. Antara lain Fisika itu Mudah dengan seri A, B, C untuk kelas 1 sampai kelas 3 SMU,
    Olimpiade Fisika, Soal-soal Mekanika untuk Calon Peserta OFI, dan masih banyak lagi karya saya
    yang totalnya ada 12 judul.

    Apa kini kegiatan Anda sehari-hari?
    Saya mengajar di jurusan Fisika dan Matematika di Universitas Pelita Harapan Fakultas MIPA.
    Sebelumnya saya pernah jadi guru SMU di Jakarta. Lalu tahun 1995 saya dan teman-teman seperti
    Agus Ananda, Roy Sembel, dan Joko Saputro membentuk Yayasan TOFI untuk meningkatkan lagi prestasi
    tim Indonesia dalam mengikuti olimpiade fisika.

    Selain itu secara pribadi saya juga melatih anak-anak yang berminat pada fisika untuk lebih tekun
    lagi mempelajarainya. Seperti saat ini, saya sedang konsentrasi pada dua anak berumur 12 dan 13
    tahun dari Surabaya dan Bogor yang menunjukkan prestasi luar biasa. Bayangkan salah satu dari
    mereka menguasai kimia luar-dalam. Ditanya apa pun tentang kimia, dia bisa menjawabnya dengan
    baik.

    Kalau kegiatan dengan keluarga bagaimana?
    Tiap punya waktu luang, saya akan pakai untuk berkumpul dengan keluarga. Saya juga selalu
    menyempatkan diri menemani anak-anak belajar, lo. Biasanya kami juga mengisi waktu dengan
    jalan-jalan, berenang, atau membaca buku bersama. Istri saya, Christina, mendukung penuh kegiatan
    dan pekerjaan saya.

    Adakah hobi lain di samping fisika?
    Hobi saya, ya cuma membaca dan menulis tentang semua hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
    Karena bagi saya ilmu pengetahuan itu menarik dan banyak manfaatnya.

    Apakah anak-anak ada yang tertarik dengan fisika?
    Si sulung Chrisanthy (11) sudah kelihatan tertarik. Sedangkan adiknya, Felicia (2,5), masih
    terlau kecil. Kebetulan si sulung ini sudah menguasai matematika level SMU sehingga enggak ada
    kesulitan memahami hitungan fisika. Saya memang sering mengajaknya belajar bersama. Biasanya akan
    saya jelaskan lebih dahulu dari mana asal teori atau rumus itu. Sedapat tiap ada kesempatan saya
    akan mengajak anak-anak berpikir. Sambil nyetir mobil misalnya, saya sering ngasih tebak-tebakan
    buat anak saya. Dari perkalian sampai kenapa mobil bisa jalan. (Nova)


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI