fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Rabu, 18 September 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Indonesia Raih Perak dan Perunggu di IPhO
    Oleh : Kompas
    Jumat, 28 Juni 2002 (18:29 WIB) dari IP 140.105.16.2

    Indonesia Raih Perak dan Perunggu di Olimpiade Fisika
    Internasional

    Jakarta, Kompas

    Lima siswa sekolah menengah umum (SMU) Indonesia meraih dua medali perak dan
    tiga medali perunggu dalam International Physics Olympiad (IPhO) di Antalya,
    Turki, yang berlangsung 28 Juni-6 Juli lalu. Dengan prestasi ini, Indonesia
    menduduki peringkat 12 dari 68 negara peserta IPhO. Pada acara tersebut, ada 35
    negara peserta lainnya yang tidak memperoleh medali apa pun.Yohanes Surya, Ketua
    Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), mengemukakan hal tersebut ketika diterima
    Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Yahya A Muhaimin, di Jakarta, Senin
    (9/7). "Prestasi ini lebih baik dibanding dengan tahun lalu yang hanya
    memperoleh empat perunggu dan satu honorable mention. Meskipun dari segi
    peringkat kita turun dari posisi sembilan menjadi 12, namun jumlah negara
    peserta meningkat dari 63 menjadi 68 negara," ujar Yohanes.

    Dari lima siswa yang tergabung dalam TOFI, Rezy Pradipta (SMU Taruna Nusantara
    Magelang) dan Frederick Petrus (SMU Sutomo I Medan) memperoleh medali perak.
    Sementara medali perunggu diperoleh Anthony Iman (SMU Pelita Harapan Karawaci
    Tangerang), Imam Makhfuds (SMUN 5 Surabaya), dan Rizki Muhammad Ridwan (SMUN 5
    Bandung).

    Secara umum, prestasi terbaik diraih oleh Cina dengan empat medali emas dan satu
    perak. Posisinya disusul Rusia dengan tiga medali emas dan dua perak. Medali
    emas diberikan kepada peserta yang berhasil mengumpulkan minimum 42 poin, perak
    36 poin, dan perunggu 30 poin.

    Sebagai penghargaan atas prestasi yang sudah diraih oleh TOFI, Asuransi Jiwa
    Central Asia Raya memberikan hadiah dengan total Rp 120 juta. Peraih medali
    perak memperoleh uang Rp 30 juta dan perunggu Rp 20 juta. Selain itu, Lippo
    Group memberikan total hadiah uang Rp 60 juta. "Sebanyak 25 persen uang dari
    Lippo Group dipergunakan untuk hadiah, sisanya 75 persen untuk pembinaan
    lanjutan," ujar Yohanes.

    Tidak kalah

    Yahya melihat, keberhasilan TOFI merupakan salah satu bukti bahwa potensi dan
    mutu anak-anak Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain. Menurut dia,
    kalau semua anak-anak Indonesia memperoleh bekal pelatihan dan pendidikan yang
    baik, maka Indonesia akan maju.

    "Terus terang, prestasi ini sangat membanggakan, di tengah situasi negara yang
    membingungkan. Apalagi bekal bagi anak-anak Indonesia, saya sadari, masih
    sedikit. Namun, tetap bisa berprestasi," tambahnya.

    Yahya mengakui, pemerintah saat ini memiliki keterbatasan dana untuk mendukung
    pendidikan. Menurut dia, pemerintah sangat membutuhkan bantuan pihak swasta
    untuk menunjang keberhasilan pendidikan anak bangsa.

    "Tanpa peran swasta, pendidikan akan tertinggal. Bagi saya, pendidikan merupakan
    kunci penting. Saya yakin, kalau semua orang punya komitmen pada pendidikan,
    Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain," ujarnya.

    Tuan rumah

    Melihat perkembangan prestasi yang diraih Indonesia dalam IPhO sejak tahun 1993,
    Presiden IPhO telah mempercayakan Indonesia sebagai penyelenggara kompetisi
    dunia tersebut tahun depan. IPhO yang direncanakan berlangsung tanggal 14-23
    Juli 2002, akan diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB
    ditunjuk Mendiknas sebagai penyelenggara IPhO ke-33, karena dianggap memiliki
    sumber daya manusia yang dapat diandalkan.

    Yohanes berpendapat, persiapan TOFI untuk menghadapi IPhO tahun depan harus
    dimulai dari sekarang. Menurut dia, sebagai tuan rumah TOFI, Indonesia
    sepatutnya menargetkan medali emas.

    IPhO sendiri merupakan kompetisi fisika tahunan dunia bagi anak-anak tingkat
    SMU. Kompetisi IPhO tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1967.

    "Siswa calon TOFI sudah mulai dipanggil minggu depan sehingga kita memiliki
    waktu satu tahun untuk mempersiapkan tim," ujar Yohanes.

    Ditambahkan, seluruh siswa SMU kelas tiga terbaik di Indonesia akan mengikuti
    seleksi TOFI. Pada seleksi tahap awal, akan dipanggil 35 orang terbaik untuk
    "dikarantina" selama satu bulan. Tahap berikutnya, TOFI akan memilih 10 orang
    terbaik untuk dipersiapkan selama 11 bulan.

    "Dengan pembinaan yang cukup panjang ini, kita harapkan TOFI bisa memperbaiki
    prestasi sehingga target untuk memperoleh emas bisa kita raih," ujarnya. (mam)


    Pendidikan di indonesia "sekolah saya"
    Oleh : No name
    Kamis, 27 Januari 2005 (20:51 WIB) dari IP 202.158.97.96

    saya adalah pelajar di sebuah sekolah swasta di daerah cileungsi..saya mengeluhkan sistem pembelajaran baru yang sangat membuat saya stress, jadi setiap hari saya selalu mempunyai perasaan yang sangat tegang atau malas karena setiap hari selalu ada presentasi dan membuat makalah dll dan bila setiap pelajaran selalu memberikan tugas presentasi dan membuat makalah lalu alat peraga itu bukannya membuat kita menjadi rajin bisa-bisa menjadi malas ke sekolah oleh karena itu saya "MOHON UNTUK MERUBAH ATAU MEMPERTIMBANGKAN SISTEM TERSEBUT" atau apa sekolah saya saja yang parah karena saya mendengar cerita-cerita dari teman saya sistem pembelajarannya tidak serumit dan separah ini dan kalau saya sekolah di sini terus bisa-bisa saya menjadi orang yang
    pembelot !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.


    Re: Indonesia Raih Perak dan Perunggu di IPhO
    Oleh : Timothy Siahaan
    Sabtu, 29 Januari 2005 (00:18 WIB) dari IP 61.5.52.108

    Memang kurikulum yang namanya KBK itu benar-benar Kurikulum Berbasis Konyol. Maksudnya memang baik, tapi pelaksanaannya itu jadi aneh, jadinya makin menyiksa. Apa para pembesar pendidikan kita itu pikir kalau siswa itu disiksa dengan kesibukan berarti dia akan lebih mendalami bidang tersebut? Hal yang pertama harus dilakukan adalah MENGURANGI JUMLAH BIDANG STUDI YANG DIPELAJARI DI SEKOLAH. Siswa harus sudah terfokus pada bidang-bidang tertentu, baru KBK (yang tidak konyol) bisa dilaksanakan. Kalau tidak, ya KBK (yang konyol) yang terjadi.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI