fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Kamis, 22 November 2018  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Indonesia meraih 3 emas
    Oleh : Yohanes Surya
    Minggu, 4 Agustus 2002 (09:47 WIB) dari IP 202.155.39.180

    Tim Olimpiade Fisika Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dan negara
    Indonesia dengan menyabet 3 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu dalam
    Olimpiade Fisika Internasional ke 33 di Bali 22-29 Juli 2002.

    Medali emas diraih oleh Peter Sahanggamu (SMUN 78 Jakarta), Widagdo Setiawan
    (SMUN 1 Denpasar), dan Fadjar Ardian (SMU Insan Cendekia Serpong). Sedangkan
    medali perak oleh Christopher Hendriks (SMU Pelita Harapan Karawaci) dan
    medali perunggu oleh Evelyn Mintarno (SMU BPK Penabur 1 Jakarta).

    Hasil ini merupakan hasil terbaik sepanjang 10 tahun sejarah TOFI. Ketika
    pertamakali TOFI ikut Olimpiade Fisika Oki Gunawan (SMUN 78 Jakarta kini
    kuliah S3 di Princeton Univ) meraih medali perunggu, kemudian prestasi
    Indonesia sempat turun tahun 1994 dan naik terus hingga meraih 1 medali emas
    (Made Agus Wirawan SMUN 1 Bangli kini kuliah S1 di Caltech), sempat turun di
    tahun 2000 (karena adanya Asian Physics Olympiad), naik lagi hingga kini.
    Mudah-mudahan hasil ini bisa terus dipertahankan hingga target untuk merebut
    5 medali emas di tahun 2006 dapat tercapai.

    Kita patut berbangga dengan hasil ini. Ini menunjukkan bahwa siswa kita
    tidak kalah dibandingkan dengan siswa negara lain. Hasil yang diperoleh
    Indonesia sudah hampir menyamai China (saingan terberat kita) yang meraih 4
    emas dan 1 perak. Hasil ini lebih baik dari Vietnam yang meraih 1 emas,
    Taiwan yang juga meraih 3 emas tetapi total skorenya masih kalah dengan
    kita.

    Ada 3 hal yang mempengaruhi keberhasilan suatu tim dalam olimpiade fisika
    Indonesia: siswa berbakat, sistem pelatihan yang bagus dan dukungan moral
    maupun materiil dari berbagai pihak. Dua hal terakhir sudah kita miliki,
    sekarang kita tinggal mencari para siswa berbakat dari seluruh Indonesia.
    Jika rekan fisikawan mengetahui ada siswa berbakat (SMU) mohon kiranya dapat
    menginformasikan pada kami. Kami juga sedang membuat pilot project untuk
    pembinaan anak berbakat (SD kelas 6, SMP kelas 1 dan kelas 2) melalui kursus
    gratis di Gading Serpong, Tangerang yang akan dimulai bulan September ini.
    Kursus ini mengajarkan anak berbakat bagaimana belajar materi matematika dan
    fisika SMU secara mudah dan menarik. Kami pernah coba iseng-iseng dengan 4-5
    siswa ternyata berhasil. Kini kami coba untuk membukanya untuk umum.


    Salam
    yohanes


    Kemenangan di Bali
    Oleh : Republika
    Selasa, 6 Agustus 2002 (08:41 WIB) dari IP 202.155.39.180

    Sabtu, 03 Agustus 2002
    Kemenangan di Bali

    Oleh Ade Armando

    Pernah dengar nama Agustinus P Sahanggamu, Widagdo Setiawan, dan
    Fadjar Ardian? Kalau tidak, jangan merasa kurang pengetahuan. Media
    massa
    memang tidak mengekspos mereka secara besar-besaran. Padahal tiga anak
    muda itu pekan lalu mengharumkan nama bangsa, mereka merebut tiga
    medali
    emas dalam Olimpiade Fisika Internasional (OFI) di Denpasar.

    Itu tentu prestasi dahsyat. OFI bukan perlombaan remeh. Ada 68 negara
    mengirimkan para siswa terbaik mereka dalam turnamen sangat kompetitif
    itu. Yang jadi juara umum adalah Iran, negara yang selama ini kerap
    dikarikaturkan sebagai negara tidak beradab. Sang adikuasa Amerika
    Serikat tidak ikut, dengan alasan --ehm-- |APO||APO|keamanan|APO||APO|.

    Indonesia sendiri, dengan tiga emas plus satu perak dan satu perunggu,
    menjadi juara umum keempat. Kita berada dalam jajaran elite bersama
    dengan tim-tim macan Asia: Cina dan Korea (peringkat 2), serta Taiwan
    (sama-sama di peringkat 4). Anggota tim Indonesia berasal dari
    berbagai
    sekolah berbeda. Agustinus misalnya dari SMU 78 Jakarta, Widagdo dari
    SMU 1 Denpasar, dan Fadjar dari SMU Insan Cendekia Serpong.

    Kemenangan para remaja pintar ini pantas dirayakan bukan hanya karena
    mereka mengharumkan nama bangsa, namun terutama karena brainware
    adalah
    sesuatu yang vital dalam menyongsong masa depan bangsa ini. Indonesia
    akan semakin terpuruk, kalau remaja kita tumbuh menjadi generasi yang
    memusatkan perhatian hanya pada kesantaian, bernyanyi-nyanyi,
    menari-nari, melucu-lucu, atau berpesta-pesta. Hiburan bukannya tidak
    penting, tetapi itu semua seharusnya menjadi kegiatan yang lebih untuk
    mengisi waktu luang, melepaskan kepenatan, atau menyehatkan jiwa dan
    badan. Untuk bisa bangkit, yang paling dibutuhkan Indonesia tentunya
    adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Sayangnya, memang arus utama gaya hidup remaja saat ini justru
    dipenuhi
    oleh hal-hal remeh tersebut. Karena itu, tim olimpiade ini juga pantas
    dipuji karena agaknya mereka memilih hidup bukan di tengah pusaran
    gemerlap |APO||APO|budaya gaul|APO||APO|. Keberhasilan mereka pasti merupakan buah
    jerih
    payah keseriusan belajar --sesuatu yang sayangnya tidak terlalu
    atraktif
    di mata remaja saat ini. Insentif lingkungan terhadap remaja yang
    memilih sibuk baca buku, belajar di rumah, di perpustakaan atau di
    laboratorium cenderung rendah. Penyebutan |APO||APO|kutu buku|APO||APO|, atau (dalam
    istilah Inggris) |APO||APO|nerd|APO||APO| merupakan cerminan ketiadaan apresiasi
    terhadap remaja yang giat belajar. Dan toh, kaum anak muda pintar ini
    memilih menjadi pintar, bukan menjadi |APO||APO|anak nongkrong|APO||APO|.

    Alhamdulillah, kebanyakan surat kabar nasional memberitakan di halaman
    depan keberhasilan para siswa Indonesia ini, setidaknya di hari
    terakhir
    --saat Indonesia diketahui merebut sejumlah medali emas. Bagaimanapun,
    keramaian persiapan dan penyelenggaraan Olimpiade Fisika sepanjang 10
    hari itu hampir-hampir tak terangkat. Tidak ada pelaporan
    berkelanjutan,
    dari hari ke hari, mengenai ajang adu otak berskala global itu.
    Apalagi
    di televisi.

    Bandingkanlah dengan huru-hara Piala Dunia 2002. Di turnamen itu,
    Indonesia sama sekali tidak ikut. Yang diperebutkan pun gelar juara
    untuk kecakapan dan keahlian yang sumbangannya bagi kemajuan bangsa
    bisa
    dibilang tidak jelas. Kalaulah Brasil jadi juara dunia, memang apa
    relevansinya bagi pembangunan Indonesia? Bandingkan juga dengan
    pemilihan Putri Indonesia!. Ada siaran langsung melalui stasiun
    televisi
    untuk acara tersebut. Sang pemenang namanya akan disebut-sebut dan
    akan
    muncul dalam berbagai kegiatan sepanjang satu tahun. Berbagai program
    infotainment mengeksposnya. Padahal dia cuma juara untuk soal
    kecantikan
    dan penampilan berskala nasional. Para anak pintar juara Olimpiade
    Fisika? Diwawancara pun tidak!

    Tetapi, barangkali kita memang tidak boleh berharap terlalu banyak.
    Yang
    penting, meski jauh dari segenap kehingarbingaran pergaulan kaum muda
    urban, di negara ini tumbuh kelompok-kelompok dan individu-individu
    yang
    terus berusaha menguasai sains, ilmu pengetahuan, dan teknologi secara
    serius. Mereka inilah yang akan menentukan masa depan Indonesia.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI