fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 28 Juli 2014  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Kompas (10 September 2003)
    Minggu, 14 September 2003 (03:41 WIB) dari IP 202.159.34.145

    Jakarta, Kompas - Para siswa berprestasi tingkat SD, SLTP, hingga SMU dari seluruh provinsi akan dipertemukan dalam sebuah lomba adu kecerdasan dan kreativitas. Mereka akan bersaing dalam Olimpiade Sains Nasional memperebutkan hadiah tunai senilai Rp 27,75 juta, komputer, dan Mendiknas Award.

    Lomba tersebut akan berlangsung tanggal 14-19 September 2003 di Balikpapan, Kalimantan Timur. "Tercatat sekitar 790 peserta dari tiga jenjang pendidikan akan berlomba mengerjakan soal-soal ilmu eksakta dalam bentuk teori dan eksperimen," kata Pimpinan Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan Direktur Pendidikan Menengah Umum Suharlan, Selasa (9/9) .

    Rinciannya, untuk tingkat SD diperlombakan bidang studi matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan 120 peserta. Untuk tingkat SLTP diperlombakan matematika berikut dua bidang IPA, yakni fisika dan biologi dengan peserta 270 siswa. Untuk tingkat SMU diperlombakan matematika dan tiga bidang IPA, yakni fisika, kimia, biologi, serta komputer dengan peserta 400 siswa.

    "Selain menggugah daya nalar, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkembangkan suasana persaingan yang sehat di kalangan siswa SD, SLTP, dan SMU," ujar Suharlan. Lomba tersebut dinilai sangat relevan di tengah maraknya tayangan mistik di televisi yang menumpulkan logika anak-anak dan remaja.(nar)


    DKI Dominasi Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Kompas
    Sabtu, 20 September 2003 (10:49 WIB) dari IP 202.159.34.173

    Jumat, 19 September 2003

    DKI Dominasi Olimpiade Sains Nasional

    Balikpapan, Kompas - Kontingen DKI Jakarta mendominasi Olimpiade Sains Nasional 2003 yang berlangsung di Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan 9 medali emas, 10 perak, dan 9 perunggu untuk tingkat SD, SLTP, dan SMU. Prestasi DKI dikuntit Jawa Tengah dengan 5 emas, 13 perak, dan 16 perunggu. Lalu Jawa Timur dengan 5 emas, 4 perak, dan 10 perunggu.

    Olimpiade yang pertama kali digelar tersebut ditutup Mendiknas Abdul Malik Fadjar, Kamis (18/9), di Asrama Haji Balikpapan. Hadir Dirjen Dikdasmen Indra Djati Sidi, Sekjen Depdiknas Baedhowi, Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid, dan perwakilan sponsor, antara lain Sampoerna Foundation dan PT Telkom.

    Selama tiga hari, lomba tersebut diikuti 790 pelajar SD, SLTP, dan SMU dari 30 provinsi. Pada tingkat SD diperlombakan bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tingkat SLTP diperlombakan tiga bidang, yakni Matematika, Fisika, dan Biologi. Di tingkat SMU diperlombakan lima bidang, yakni Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Informatika/Komputer.

    Untuk tingkat SD, DKI Jakarta memborong dua medali emas yang diperebutkan, yakni Matematika dan IPA. Jateng meraih dua medali perak, sedangkan medali perunggu diraih Jatim dan DKI Jakarta. Selain mendapat medali, pelajar yang merebut emas juga mendapat Tabanas Rp 3 juta.

    Untuk tingkat SLTP, medali emas Fisika diperoleh Jawa Tengah, medali emas Matematika diraih DKI Jakarta, dan medali emas Biologi direbut Sumatera Utara. Peraih medali emas pada jenjang ini juga mendapat Tabanas Rp 5,5 juta dan seperangkat komputer.

    Untuk tingkat SMU, pada setiap bidang yang dilombakan diperebutkan 5 emas, 10 perak, dan 15 perunggu. Pada jenjang ini, DKI Jakarta membukukan enam emas, masing-masing satu dari Fisika, satu dari Matematika, satu dari Kimia, dan tiga medali emas dari Komputer/Informatika.

    Satu-satunya bidang yang lepas dari dominasi DKI Jakarta adalah Biologi. Khusus pada bidang ini, Jateng dan Sumatera Barat masing-masing meraih dua emas. Satu emas lainnya diraih Jatim. Peraih emas juga berhak atas hadiah uang Rp 6 juta dari Depdiknas dan paket beasiswa S1 senilai Rp 40 juta dari Sampoerna Foundation.

    "Beasiswa ini untuk pemenang yang melanjutkan pendidikan S1 di dalam negeri. Jika pemenang melanjutkan pendidikan S1 di luar negeri, maka paket beasiswa tersebut tidak bisa diuangkan karena memang tujuannya untuk menumbuhkan kebanggaan pada pendidikan di Tanah Air," kata Direktur Operasi Sampoerna Foundation Elan Merdy. (THY/NAR)


    Olimpiade Sains Nasional 2003 Membudayakan Semangat Kompetisi
    Oleh : Kompas (26 September 2003)
    Sabtu, 27 September 2003 (00:02 WIB) dari IP 152.118.24.3

    "DATANG..! Berkompetisi..! Dan, Jadilah yang Terbaik!" Begitulah bunyi spanduk di Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, melengkapi ucapan selamat datang kepada peserta Olimpiade Sains Nasional 2003.

    S>small 2 small 0< pembakar semangat para peserta dari 30 provinsi juga terbentang di asrama haji Balikpapan dan Hotel Benakutai, tempat peserta menginap, serta di lokasi perlombaan SLTP Negeri 1 dan SMU Negeri 1 Balikpapan.

    Selama 15-18 September 2003, Balikpapan memang menjadi tuan rumah Olimpiade Sains Nasional. Kegiatan adu kemampuan bidang ilmu-ilmu dasar tersebut pertama kalinya digelar secara nasional di Tanah Air. Para pelajar pilihan tingkat SD, SLTP, hingga SMU beradu otak memecahkan soal-soal teori dan praktik.

    Pada tingkat SD dilombakan bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). SLTP bidang Matematika, Fisika, dan Biologi. SMU bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Komputer/Informatika.

    Hasilnya, kontingen DKI Jakarta mendominasi. DKI meraih sembilan medali emas, 10 perak, dan sembilan perunggu. Prestasi DKI dikuntit Jawa Tengah dengan lima emas, 13 perak, dan 16 perunggu. Lalu Jawa Timur dengan lima emas, empat perak, dan 10 perunggu.

    Meskipun kontingen Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Riau, dan Bengkulu juga meraih emas, harus diakui sekolah-sekolah di Pulau Jawa masih unggul dalam ilmu-ilmu dasar.

    Jika dicermati lebih jauh, tampak bahwa para peraih medali emas dari sekolah-sekolah di Jawa tidak semuanya berasal dari kota besar. Sejumlah pelajar dari kabupaten pelosok di Jawa pun merebut emas.

    Contohnya, Setya Perwira Putra, pelajar SMU yang menyumbang satu emas bidang Fisika untuk Jawa Timur. Dia murid SMUN 1 Genteng, Banyuwangi, daerah di ujung timur Jawa Timur.

    Contoh lain, Aziz Adi Suyono, pelajar SLTP yang menyumbang satu emas buat Jawa Tengah. Dia pelajar SLTP Negeri 9 Cilacap, sekolah yang diapit kelokan sungai dan tebing. Lokasinya di Desa Kutawaru, Kabupaten Cilacap. Para pelajar harus jalan kaki atau bersepeda karena lokasinya tidak terjangkau angkutan umum.

    Jangankan informasi, perangkat laboratorium pun terbatas. "Masih banyak pelajar kami yang belum kenal apa itu mikroskop," ujar Isnu Sudarto, Kepala SLTP Negeri 9 Cilacap.

    Semua itu membuyarkan alasan klasik bahwa sekolah di Jawa lebih potensial berprestasi ketimbang di luar Jawa karena fasilitas. Alasan tersebut muncul dalam simposium guru sains yang berlangsung paralel.

    Soal peta mutu pendidikan, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidi mengatakan, hasil olimpiade menjadi masukan bagi Depdiknas untuk membenahi metode pengajaran sains.

    Koordinator Olimpiade Sains Suharlan menambahkan, paling tidak sudah ketahuan pelajar mana yang layak diseleksi untuk mewakili Indonesia dalam olimpiade internasional.

    JIKA tujuannya untuk melihat peta pendidikan secara nasional, mungkin penyelenggaraan olimpiade sains tersebut sudah mengenai sasaran.

    Dilihat dari perolehan medali, penguasaan sains ternyata tidak hanya dimiliki sekolah-sekolah di ibu kota provinsi apalagi ibu kota republik. Penguasaan sains juga dimiliki sekolah-sekolah di pelosok.

    SMU Negeri 1 Purwokerto, misalnya, bisa meraih medali emas Biologi atas nama Zenita Adhireksan sekaligus meraih predikat peserta praktik Biologi terbaik. Bahkan untuk bidang Biologi SMU, kelima medali emas diraih sekolah-sekolah di Jawa dan Sumatera yang bukan berada di ibu kota provinsi.

    Di SMU I Purwokerto, seleksi peserta olimpiade sudah dimulai sejak siswa kelas I. Selain melihat nilai ebtanas murni, prestasi murid selama di SLTP juga menjadi bahan pertimbangan. Murid diberi pelatihan sesuai minatnya.

    Bimbingan dilakukan intensif dan terus-menerus diseleksi sehingga diperoleh 10 peserta terbaik. Peserta inilah yang kemudian mendapat bimbingan khusus untuk mengikuti beragam perlombaan Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi.

    Melalui pola seleksi seperti ini, SMU I Purwokerto senantiasa meraih juara. Bahkan tahun 2001 lalu, salah seorang siswanya, A Jafar, menjadi wakil Indonesia ke Olimpiade Biologi Internasional di Belgia dan meraih medali perunggu. Tahun 2002 Jafar bersama tiga orang lainnya dalam Olimpiade Biologi Internasional di Rusia kembali meraih perunggu.

    Tahun 2003 Zenita Adhireksan meraih juara I Biologi tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    Guru mendapat insentif khusus dari sekolah jika memberikan bimbingan serius di luar jam sekolah. Bahkan jika muridnya berprestasi, guru juga mendapat insentif.

    Komari, guru Biologi SMU I Purwokerto yang beberapa kali berhasil mengantar murid-muridnya berprestasi di bidang Biologi, mendapat pelatihan di ITB. Buku serta soal-soal yang diperoleh selama pelatihan menjadi bekal berharga untuk murid-muridnya.

    AZIZ Adi Suyono, siswa kelas III SLTP 9, Desa Kutawaru, Cilacap, Jateng, meraih juara pertama Fisika tingkat SLTP, juga berkat gurunya. Setelah selesai pelajaran sekolah, dia belajar khusus pada gurunya untuk soal-soal olimpiade fisika.

    Hanya saja prestasi Aziz tidak didapat dengan mudah. Jangankan peralatan praktikum lengkap, untuk mencapai sekolahnya pun setiap pagi dia harus menyeberang Sungai Donan.

    Lain lagi dengan Setya Perwira Putra, siswa SMUN 1 Genteng, Banyuwangi, yang meraih medali emas Fisika sekaligus peserta terbaik bidang fisika teori tingkat SMU. Pengalamannya mengikuti seleksi Tim Olimpiade Fisika Indonesia 2002 merupakan modal berharga mengikuti olimpiade di Balikpapan.

    Memang, Setya Perwira lolos masuk 30 besar sehingga sempat sebulan diasuh ahli fisika Yohanes Surya. Namun, dia gagal masuk 10 besar. Kegagalan ini membuatnya belajar lebih giat. Buku-buku soal olimpiade fisika terus dilahapnya.

    Menurut Setya, eksperimen yang diberikan Yohanes Surya menggunakan peralatan sederhana, murah, dan mudah dijumpai sehari-hari. "Keunggulannya dalam pengembangan konsep," katanya.

    Atas pengalaman itu, dia mengusulkan peralatan praktikum fisika di sekolah tak perlu muluk-muluk, apalagi harganya mahal. Kelereng, bola, palu, lampu senter, dan tali, misalnya, bisa digunakan.

    Fendy, peraih medali emas sekaligus peserta terbaik kimia teori tingkat SMU, punya pengalaman tersendiri mengikuti Olimpiade Sains 2003. Menurut siswa kelas III SMU Budi Mulia Jakarta ini, tadinya ia merasa unggul di bidang Fisika, Kimia, dan Matematika.

    Ia pernah mengikuti lomba matematika di Bina Nusantara tahun 2002, namun gagal. Begitu pun saat mengikuti lomba fisika di Universitas Kristen Indonesia. Namun, di olimpiade bidang kimia, dia justru meraih medali emas dan sekaligus peserta terbaik untuk kimia teori.

    "Sekarang saya mantap untuk mengambil program studi Kimia. Ternyata potensi saya di situ," kata Fendy yang ingin menjadi ahli kimia terkemuka.

    Fendy memang selalu serius menekuni pilihannya dengan menyisihkan uang jajan untuk membeli buku soal ulangan umum maupun olimpiade.

    Saat kelas satu, misalnya, semua buku pelajaran habis dilahap sehingga dia membeli buku-buku pelajaran kelas dua. Karena semua buku sudah habis dipelajarinya, di kelas dua ia belajar buku-buku kelas tiga.

    FENDY beruntung mudah mendapatkan buku-buku berkualitas baik. Rekan-rekan seusianya, bahkan peserta Olimpiade Sains di Balikpapan, belum tentu bisa mendapatkannya.

    Rani Cahyani, siswa SMUN I Kendari, misalnya, kebingungan ketika mendapat soal membuat program pascal dalam bidang Komputer/Informatika. "Program itu belum ada di daerah kami," katanya.

    Hal serupa dialami Beni Patty, siswa SMU Kristen Tobello di Maluku Utara, yang kebingungan ketika ia harus membuat jawaban dengan program pascal.

    Lain lagi dengan Rachmatiah, siswa SMPN I Ternate yang mengikuti bidang Fisika. Soal-soal yang diberikan selama olimpiade berlangsung membuatnya bingung karena sama sekali belum pernah dipelajari. "Saya bahkan sempat tertidur karena tidak tahu mau menjawab apa," kata Rachmatiah.

    Yang dialami Fathiah Nurulillah, siswa SMP I Soasio, Tidore Utara, sama saja. Ia mengikuti bidang Biologi. Dikiranya, soal-soal yang diujikan seperti ulangan umum di sekolah. Karena itu dia lebih banyak menghafal buku-buku pelajarannya.

    Ternyata yang diujikan selain teori juga ada praktik. Padahal, di sekolah belum pernah sekali pun praktik karena peralatannya memang tidak ada.

    "Karena itu ketika praktik Biologi di olimpiade, saya bingung. Jangankan menggunakan mikroskop, seumur-umur baru kali ini melihat mikroskop," ujar Fathiah. (THY/NAR)


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Mftrasyid1@hotmail.com
    Minggu, 27 Juni 2004 (22:13 WIB) dari IP 202.159.126.140

    Saya ingin memberitahu bahwa, dalam Olimpiade Matematika tingkat Asia Pasifik / Asian Pasific Mathematical Olympiad (APMO) tahun 2004, Indonesia berhasil meraih empat medali perunggu dan dua penghargaan Honorable Mention.
    Peraih medali perunggu atas nama:
    1. Wahyu Perdana Y. (SMUK 1 BPK Penabur Jakarta)
    2. Andre Yohannes W. (SMUK St. Louis 1 Surabaya)
    3. Ivan Janatra (SMUK 1 BPK Penabur Jakarta)
    4. Nolang Fanani (SMUN 1 Surakarta)
    Peraih Honorable Mention atas nama:
    1. Muhamad Fajrin Rasyid (SMUN 1 Pekalongan)
    2. Nanang Susyanto (SMUN 1 Temanggung)


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Nolang Fanani
    Kamis, 28 Oktober 2004 (11:50 WIB) dari IP 202.249.26.85

    Saya salah seorang yg beruntung dpt mewakili Indonesia dlm Olimpiade Matematika Internasional(IMO) 2004 di Athena.
    Saya ingin berbagi pengalaman2 saya selama bergelut dgn IMO.
    Beberapa pengalaman saya ttg belajar IMO yaitu:
    1. Belajar IMO nggak bisa instan, harus belajar tahap demi tahap.
    Karena itu, seleksi IMO dibuat bertahap-tahap shg semua pihak diharapkan dapat mengikutinya dgn baik dan lancar.
    Ttg waktu belajar, saya rasa itu tergantung kebiasaan tiap orang, tidak masalah itu pagi,siang ataupun malam, yang penting adalah kekontinuan dari proses belajar tsb.

    2. Banyak latihan soal.
    Belajar teori-teori saja tidak cukup. Dengan latihan soal, pola pikir kita akan semakin terasah dan membiasakan pikiran kita utk dpt menelurkan ide-ide kreatif dalam pemecahan soal-soal IMO. Dalam pemecahan problem2 IMO, yg dibutuhkan adalah logika dan ide-ide kreatif, bukan hanya satu-dua rumus jadi yg tinggal digunakan. Paling tidak, latihan soal akan mempermudah dalam pengerjaan soal-soal lain yang setipe.
    Soal2nya sendiri bisa didapat dari buku2, internet, dll.

    3. Jangan mudah putus asa.
    Pemecahan soal2 IMO pada umumnya membutuhkan waktu yg lama(bisa berjam-jam utk 1 soal). Tingkat Internasional sendiri ada 3 soal dlm waktu 4,5 jam. Jadi, kita harus sabar dan terus mencoba jika blm dpt memecahkan suatu soal IMO. Tapi ada kalanya jg kita harus melihat jawaban soal tsb dr sumber lain jika memang pikiran kita sdh bnr2 mentok.

    4. Apalagi ya..?? :)

    Saya rasa, sekian dulu pengalaman yg dpt saya bagikan.
    Semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.
    Bagi senior yg lain, silahkan menambahkan yang dirasa kurang.
    Bagi yg ingin berkomunikasi saya, kirim saja ke nolangfanani@yahoo.com .
    Terimakasih..


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Fajrin Rasyid
    Sabtu, 6 November 2004 (10:33 WIB) dari IP 202.51.232.227

    Tentu aja boleh lah...

    Mengenai soal dll, kan udah dibilangin.. bisa diliat di

    http://students.ifitb.ac.id/~if13022/imo
    http://www.kalva.demon.co.uk

    dan situs-situs olimpiade mat negara-negara (indonesia belum buat hiks )

    gitu ya!
    kalo buku-buku, cari aja buku yang judulnya olimpiade matematika (setau saya di Indonesia cuman ada dua judul hiks )
    Kalo yang inggris banyak, contohnya:
    1. Problem Solving Strategies by Arthur Engels
    2. How To Solve It by George Polya
    dan lain-lain

    salam


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Fajrin
    Sabtu, 6 November 2004 (10:35 WIB) dari IP 202.51.232.227

    sori salah ketik, yang bener
    http://students.if.itb.ac.id/~if13022/imo
    satunya lagi uda bener


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Fajrin Rasyid
    Sabtu, 20 November 2004 (20:28 WIB) dari IP 202.143.100.1

    Nih kutambahin Zak...

    Salah satu ciri soal olimpiade matematika yang baik (di tingkat apapun), adalah soal tersebut tidak membutuhkan persyaratan apapun untuk menjawabnya selain kecerdasan. Dalam arti, dalam satu soal, bisa saja anak SMA (ato SMP) mengalahkan seorang dosen MTK. Jadi sama sekali perbedaan usia dan perbedaan jenjang studi mempengaruhi. Namun disini, perbedaan usia mempengaruhi terhadap, salah satunya kemampuan berpikir logis dan penalaran.

    Nah jika Tama sekarang merasa belum mampu, mungkin karena kurang pengalaman. Kurang pengalaman di sini tidak berarti harus mengikuti berbagai lomba, tapi bisa juga didapat dengan sering mengerjakan soal dengan mengetahui konser dasarnya dahulu. Mulailah mengerjakan soal dari dasar (di buku Pak Suwah sama satu lagi, oke tuh, ato bukunya Arthur yang nomer-nomer awal). Dan jangan merasa karena sudah bisa mengerjakan suatu soal, terus dilewati saja, karena mungkin ada 'ide' yang terlewat. 'Ide' juga bisa didapat dari saling diskusi dengan teman atau guru. Jadi, meskipun ada dua orang dapat menyelesaikan suatu soal, ada baiknya jika keduanya salaing bertukar informasi, karena mungkin ada suatu yang kamu luputkan, dan sebaliknya. Dengan semakin banyak mengerjakan soal, ide akan semakin terasah dan pola pikir akan semakin berkembang.

    Sekian dulu yah...
    kirim-kirim soal yang agak gampang ada juga di situs mas Fajar itu (yang ..../~if13022/imo ) atau saya kirimkan beberapa hari lagi ya! Buat yang perlu hubungi saya, biar sekalian. Maaf kemaren2 soalnya kan mudik, enggak kebawa soalnya...

    Saya di mfrasyid1@hotmail.com


    Re: Olimpiade Sains Nasional
    Oleh : Aleams Barra
    Jumat, 26 November 2004 (13:42 WIB) dari IP 128.119.15.223

    Salam kenal buat Fajrin dan Yudis. Disini ada yang masih ikut pembinaan? (bukan alumni maksudnya).

    Oh ya saya coba-coba buat webpage buat menampung informasi tentang olimpiade. Bisa di buka dengan alamat
    http:\\www.olimpiadematematika.info

    Saya memerlukan tenaga bantuan dari semuanya. Yang mau jadi sukarelawan harap mengirimkan kesediaanya ke emai saya: abarra@nsm.umass.edu

    Oh ya yang di Bandung dan mau lihat pembinaan minta bantuannya untuk memberi laporan pandangan mata tentang kegiatan disana.

    Harap webpage diatas disebarluaskan, dan mudah2an kita semua punya tenaga dan waktu untuk memperlengkap isinya.

    Wassalam



    Oleh :
    Kamis, 1 Januari 1970 (07:00 WIB) dari IP



    Oleh :
    Kamis, 1 Januari 1970 (07:00 WIB) dari IP


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2014 LIPI