fisik@net lihat situs sponsor
        ISSN 2086-5325 Senin, 16 September 2019  
 
LIPI

depan
database
database
artikel
fenomena
kegiatan
situs
info
kamus
publikasi
buku
prestasi
kontak
e-data

  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
  Forum informasi berita :

pengumuman berita dana beasiswa lowongan teknis

Tanggapan atas pesan yang sedang dibaca bisa dilakukan melalui sarana pengiriman pesan yang ada di bagian bawah.

» Lihat daftar pesan di forum informasi berita
» Tulis pesan baru di forum informasi berita

  • PESAN DAN TANGGAPAN :

    Belasungkawa untuk Bapak Dr. Radius Prawiro : Bapak Radius dan TOFI
    Oleh : Yohanes Surya
    Rabu, 1 Juni 2005 (07:19 WIB) dari IP 202.153.239.170

    BULAN April 2005 di Pekanbaru, Riau, baru saja dilaksanakan Olimpiade Fisika Asia. Indonesia menempati peringkat dua di bawah China dengan empat medali emas. Indonesia berada di atas Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Rusia. Luar biasa!

    Sejak mulai ikut tahun 1993, Indonesia sudah meraih 18 medali emas, 11 perak, dan 29 medali perunggu dalam Olimpiade Fisika Internasional dan Olimpiade Fisika Asia. Di balik kesuksesan tim Indonesia ini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa prestasi yang baik ini dimulai dengan susah payah sekitar sepuluh tahun yang lalu melalui tangan orang-orang yang bersedia mendukung tanpa pamrih. Salah satu di antaranya adalah almarhum Bapak Radius Prawiro.

    Masih segar dalam ingatan saya, akhir tahun 1994 saya memutuskan untuk meninggalkan Laboratorium Fisika Nuklir terbaik Amerika Serikat CEBAF/TJNAF, kembali ke Indonesia dengan satu tujuan yaitu bagaimana agar Indonesia mampu menjadi juara dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional. Tiba di Indonesia, saya mencoba membangun network, tetapi ternyata tidak mudah. Pemerintah (Depdikbud) waktu itu hanya menyediakan dana sangat sedikit, hanya cukup untuk training satu-dua minggu. Padahal untuk berhasil kita harus men-training peserta secara intensif minimal dua bulan. Cari dana ke sana-kemari, setengah mengemis, kadang dihina, akhirnya tahun 1995 saya bertemu Bapak Anugerah Pekerti. Melalui Pak Pekerti saya diperkenalkan pada beberapa orang yang mempunyai hati untuk membantu tanpa pamrih. Salah satu di antaranya adalah Bapak Radius Prawiro.

    Saya belum pernah bertemu dengan Pak Radius sebelumnya, saya hanya kenal dari surat kabar bahwa beliau merupakan salah satu menteri berprestasi. Pada pertemuan pertama beliau banyak bercerita tentang bagaimana membangun bangsa. Saya kagum dengan jiwa kebangsaannya dan keinginannya memajukan bangsa Indonesia, tanpa memandang latar belakang, suku, agama, ras, dan hal-hal yang tidak relevan lainnya. Melalui beberapa kali pertemuan, beliau menawarkan untuk menggunakan Wisma Kinasih sebagai tempat training. Wisma Kinasih adalah seperti tempat pertemuan besar, di daerah Ciawi yang sejuk. Sangat cocok untuk training intensif TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia).

    Tahun 1996 selama dua bulan (Mei-Juli) kami tinggal di Wisma Kinasih tanpa bayar sesenpun. Segala fasilitas diberikan dari mulai rumah tinggal, makanan yang khusus dipesan (penuh gizi), sampai ke tempat belajar yang sangat baik dan memadai. Kalau di suruh bayar pasti kami tidak akan sanggup. Berapalah gaji seorang calon pegawai negeri saat itu! Yang luar biasa, beliau tidak meminta balasan apa-apa alias membantu tanpa pamrih!

    Dengan fasilitas yang begitu baik, prestasi tim Indonesia mulai merangkak naik. Selama dua tahun (1996 dan 1997) kami sangat menikmati kebaikan ini. Beberapa alumni TOFI yang menikmati pembinaan di Wisma Kinasih sekarang sedang mengambil program PhD fisika (Rizal Fajar Hariadi di California Institute of Technology, Wahyu Setiawan di Duke University, Boy Tanto di Michigan University, Hendra di College of William and Mary, dan lain-lain).

    SEJAK tahun 1998 seiring dengan meningkatnya dukungan pemerintah melalui Bapak Wardiman Djojonegoro (waktu itu Mendikbud) dan dukungan teman-teman seperti Bapak H Mohammad Amin, H Mahendra, Susanto, dan lain-lain, training intensif dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggal kami di Tangerang, Banten, hingga kini. Walaupun tidak lagi menggunakan fasilitas di Wisma Kinasih, Pak Radius masih suka mendorong kami melalui telepon.

    Akhirnya, tahun 1999 Indonesia merebut emas pertama atas nama I Made Agus Wirawan dari SMUN 1 Bangli. Bangsa Indonesia dapat tersenyum. Ternyata siswa Indonesia tidak kalah dengan siswa negara lain! Ternyata SDM kita mampu! Ini bekal moral yang besar bagi bangsa kita untuk maju bersaing dengan negara-negara lain.

    Sejak tahun 2000, kami jarang menghubungi beliau, sampai akhirnya kami mendengar beberapa hari yang lalu berita dari salah satu pendiri TOFI juga Dr Roy Sembel, bahwa beliau telah dipanggil Tuhan. Kami sangat terkejut, seorang yang berjasa dalam perjalanan TOFI telah pergi selamanya.

    Walaupun almarhum telah tiada, namun nasihat-nasihatnya untuk memajukan Indonesia masih terus terngiang-ngiang. Mudah-mudahan kami dapat meneruskan perjuangannya untuk terus membangun bangsa ini agar menjadi bangsa yang besar, bangsa yang tidak mudah dilecehkan orang. Sayangnya beberapa hari yang lalu merebak berita anak-anak yang busung lapar. Mereka bakal menjadi generasi yang hilang (lost generation). Pak Radius tentu sedih dengan keadaan ini. Namun, semoga beliau masih dapat tersenyum di alam baka dengan prestasi TOFI kita.


  • TULIS TANGGAPAN BARU :

    PERHATIAN : Semua data terminal yang mengakses otomatis dicatat sebagai arsip serta untuk kenyamanan bersama.

    judul :
    penulis : username :     password :
    isi :

    » kirim ke teman
    » versi cetak
    » berbagi ke Facebook
    » berbagi ke Twitter
    » markah halaman ini

  •  

    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2019 LIPI