fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Roby Muhammad, Peneliti Indonesia yang Mengglobal Lewat New York, Diwawancarai CNN, Diliput 88 Media Internasional
Ramadhan Pohan (Jawa Pos)

PETANG itu, pukul 17.40, jaringan televisi terbesar di dunia, CNN, menayangkan acara Next at CNN. Tamu jaringan televisi yang berpusat di Atlanta, Georgia, AS, itu adalah Roby Muhammad, peneliti Indonesia kelahiran Bandung, 17 Mei 1975. Wawancara yang dilakukan secara live sekitar sepuluh menit itu berkisar soal riset Roby mengenai jaringan sosial (social networks).

Menurut Roby, hanya butuh 5-7 langkah agar pesan sampai kepada target. "Kita hidup dalam dunia yang kecil. Kejadian yang dianggap jauh sebetulnya terjadi dekat dengan kita karena koneksi social networks,"ungkapnya.

Menurut bungsu pasangan Prof Dr Wahyu Karhiwikarta dan dr Hanariah Wahyu itu, eksperimen sosial lewat internet bisa mengubah persepsi orang. Sebetulnya, semua manusia di muka bumi ini terhubungkan sangat dekat. "Maka, sudah selayaknya kita mengembangkan rasa toleransi dan bersaudara untuk semua umat manusia," ujarnya.

Karena acara tersebut ditayangkan sebelum perayaan kemerdekaan RI, penampilan Roby di CNN itu bisa dianggap sebagai hadiah. Roby hadir di penguasa media dunia tersebut ketika nama Indonesia dan muslim Nusantara jadi sorotan di mana-mana. Dalam pemberitaan internasional tentang Indonesia, yang disorot biasanya soal bom Bali, bom Marriott, Abu Bakar Ba'asyir, Imam Samudra, Amrozi, Hambali, dan sejenisnya. Karena itu, pemunculan Roby bisa dikatakan sebagai pelepas dahaga; segelas air di tengah gurun luas.

Pemunculannya di CNN tersebut bukanlah yang pertama atau satu-satunya liputan media internasional atas riset yang digarap tiga orang itu. Yakni, Prof Duncan Watts, Dr Peter Dodds, dan Roby Muhammad. Riset berawal dari tesis master Roby di Department of Sociology, Columbia University, 220F International Affairs Building 420 W118th St. New York, NY 10027. Mail Code 3355. Saat ini, Roby memasuki tahun kedua program doktor di jurusan dan universitas yang sama.

Sebelum di CNN, sekitar 88 media internasional sudah membicarakan risetnya. Duncan, Peter, dan Roby bergantian menjadi narasumber. Pekan lalu, The New York Times edisi 12 Agustus, Financial Times, USA Today, The Mirror, Sidney Morning Herald, dan Spiegel masing-masing edisi 8 Agustus juga memuatnya. Sebelum itu, berbagai media dari bermacam negeri dan bahasa ramai- ramai menyoroti riset Roby dkk. Antara lain, National Public Radio, CBC Canada, The Times of India, Frankfurter Allgemeine Zeitung, La Republica Italia, Folha de Sao Paulo, Nanfang Daily, The Washington Post, dan FOX News. Terakhir media Technology Review edisi 18 Agustus.

"Sebetulnya, kami mengalami dua kali gelombang liputan media. Pertama ketika eksperimen baru mulai pada 2002 dan sekarang ketika hasil eksperimen tersedia," kata Roby kepada Jawa Pos. "Untuk mengetahui A sampai Z-nya, silakan dilihat di http://smallworld.columbia.edu," lanjut dia.

Meski sudah mengglobal, kiprah Roby dkk di Indonesia masih diketahui kalangan terbatas. Bahkan, kata dia, baru Jawa Pos yang wewawancarainya ihwal riset dunia kecil itu.

Apa yang didapat dari riset Roby dkk itu?

"Eksperimen kami membuktikan bahwa orang di dunia terhubungkan melalui rantai kenalan yang pendek," jelasnya. "Jadi, kita hidup di dunia kecil di mana setiap orang saling terhubungkan satu sama lain," lanjutnya.

Lebih lanjut, Roby menjelaskan, dalam pop culture Amerika, dikenal apa yang dinamakan six degrees of separation. Yaitu klaim bahwa setiap orang di dunia dapat dihubungkan dengan siapa pun di dunia hanya melalui kurang lebih enam kenalan (six degrees of separation).

"Misalnya, berapa degrees Sampeyan dengan presiden Rusia? Misalkan Anda kenal dengan seorang senator Amerika yang kenal dengan Presiden Bush yang kenal dengan Presiden Putin, maka Bang Pohan hanya dipisahkan dengan dua degrees of separation," katanya.

"Atau pengalaman ketika kita baru berkenalan dengan seorang yang tidak kenal sebelumnya dan menemukan, ternyata bahwa kita memiliki seorang teman yang sama. Biasanya, kita lantas mengatakan it's a small world!" tutur Roby, panjang lebar.

Selain menggandengkan rantai kenalan, eksperimen jaringan sosial itu bisa dimanfaatkan untuk tujuan positif. Misalnya, untuk keperluan bantuan. Namun, bukan berarti ada semangat absolutisme atau mutlak-mutlakan. "Hanya karena Presiden Bush enam degrees dari saya, bukan langsung berarti saya akan diundang makan malam di Gedung Putih," kelakar Dr Duncan J. Watts, rekan peneliti sekaligus dosen Roby, dalam wawancara di The New York Times edisi 12 Agustus.

Temuan Roby dkk itu sebetulnya melanjutkan eksperimen Stanley Milgram pada 1967. Jika Stanley melakukan eksperimen lewat pengiriman paket barang, Roby dkk melalui e-mail dan internet. Sebelum eksperimennya jalan, Roby mengaku selama setahun harus membangun sendiri sistem komputernya, termasuk website dan database-nya. "Pekerjaan berat karena saya tidak punya background computer science," akunya. "Tapi, kami berhasil membuatnya," tambah Roby.

Liputan CNN tersebut tak pelak menaikkan pamor suami Tika Sukarna itu. Wanita yang dinikahi Roby di Sukabumi pada 2000 tersebut saat ini juga sedang sekolah program doktor bidang biologi molekuler di City University of New York.

Di kalangan Indonesia di New York, Roby dikenal sebagai sosok pintar, cemerlang, bahkan jenius. Kendati usianya relatif muda, reputasi risetnya sudah mengglobal. Menurut Roby, Indonesia sebenarnya memang gudang ilmuwan dan punya potensi dahsyat di bidang ilmu pengetahuan. "Saya memang ingin menunjukkan bahwa orang Indonesia mampu menghasilkan karya ilmiah yang diakui dalam level internasional," ujarnya.

"Saya tahu banyak orang Indonesia yang mampu di bidang sains- teknologi asalkan diberi kesempatan. Banyak kok kawan saya asal Indonesia yang juga melakukan penelitian di Jepang, Eropa, dan Amerika yang menghasilkan karya ilmiah penting," sambungnya.

Dalam kesederhanaan penampilannya, pria yang sejak 2000 lalu berdomisili di New York itu mengaku punya kerinduan kepada kemajuan dan sains di dunia Islam. "Saya berusaha terus untuk menunjukkan bahwa muslim dapat memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan teknologi modern," katanya.

"Menghasilkan karya ilmiah adalah cara saya berdakwah."


BAGIAN 2

Tertarik Ilmu Sosial setelah Reformasi 1998

Roby Muhamad merupakan sosok yang suka asyik dengan ilmu pengetahuan (sains). Minat dan rasa ingin tahu yang tinggi pada suatu fenomena, perubahan, atau hasil membuatnya serius menekuni sains. Ada jalan panjang sebelum wawancara live CNN dan liputan media global pada riset jaringan rantai kenalan yang bersumber dari riset masternya itu.

Lingkungan, pendidikan, bacaan, dan pergaulan Roby selama ini memang dekat dengan dunia sains. Setamat SMA 5 Bandung, Roby cepat menyelesaikan S1 dan S2 di Laboratorium Fisika Teori, Departemen Fisika FMIPA ITB, Bandung.

Setelah berkutat di dunia fisika, Roby bagai banting setir berbelok ke ilmu sosial. Fenomena Indonesia menjelang dan pascajatuhnya kekuasaan Soeharto begitu menghantui pikiran dan perhatiannya.

"Gerakan reformasi di Indonesia pada 1998 dan munculnya berbagai konflik sosial membuat saya tertarik pada ilmu sosial. Saya berpikir analisis matematis yang saya peroleh di fisika dapat membantu analisis masalah sosial," ungkapnya.

Dahsyatnya perubahan sosial di Indonesia pada 1997-1998 itu, kata Roby, membuat dirinya begitu terkesima. Ketika itu, dia baru akan memulai program master di Fisika ITB. Ketika itu, dirinya sedang asyik-asyiknya mempelajari teori string yang diklaim sebagai teori paling mungkin menjelaskan alam semesta.

"Saya berpikir, ilmu manusia telah mampu menguak rahasia asal-usul alam semesta. Tapi, pengetahuan mengenai sistem sosial masih terbatas."

"Padahal, seperti yang kita rasakan sendiri, dinamika sosial bisa mengubah kehidupan kita sehari-hari dalam sekejap," katanya.

Dari pengalaman pribadi itu, dia merasakan pentingnya ilmu sosial. Itulah yang membuatnya ingin mempelajari ilmu sosial tanpa harus membuang pengetahuan yang dia peroleh selama belajar fisika.

"Saya beruntung karena di akhir abad 20 sedang berkembang apa yang dinamakan studi kompleksitas. Terutama saya tertarik dengan studi jaringan kompleks (complex networks). Ilmu jaringan (network science) ini berguna untuk mempelajari sistem sosial yang kompleks. Ilmu jaringan ini berusaha mempelajari salah satu masalah terbesar dalam sains, yaitu masalah agregasi," tuturnya.

Untuk lebih serius mendalami hal itu, Roby berkuliah master lagi di bidang yang berbeda dengan pendidikannya selama ini. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung mematok New York sebagai tempatnya menimba ilmu. Untuk master kali ini, dia diterima masuk di universitas ternama, Columbia University. Di kampus yang berlokasi di The Big Apple yang multiras dan etnis tersebut, Roby ingin mendalami serta meneliti masalah sosial. "Saya selesai kuliah master itu pada 2002," jelasnya.

Dia tak berhenti di situ. Sejak tahun lalu, dirinya kini tercatat sebagai mahasiswa program doktor di Departemen Sosiologi di universitas yang sama. Minat, intelektualitas, dan spiritnya yang tinggi membuat pria kalem tersebut relatif mudah menggapai segala tantangan keilmuwannya.

Pilihan studi ke Amerika, lebih-lebih New York, jelas bukan merupakan sesuatu yang mudah atau murah. Siapa pun tahu bahwa New York City merupakan kota mahal, selain pusat kapitalis dunia. Biaya apartemen, transportasi, uang kuliah, dan tetek-bengek tagihan khas kota modern itu tergolong mahal.

Tetapi, saat Roby tiba di New York pada 2000, hanya beberapa bulan dia harus ngos-ngosan mengirit. Sebab, bakat, minat, dan kesungguhannya dilirik kampus. Columbia University memberi dia beasiswa. Tidak hanya itu. Kini, selain bebas uang kuliah, uang bulanan diberikan kepadanya. Dan, dia tidak perlu memusingkan masalah biaya lagi.

Lebih dari itu, Roby mendapatkan pendapatan tambahan lewat aktivitas mengajar dan risetnya. Kini, bersama istrinya yang juga studi S-3, Roby boleh bernapas lega. Dia mengakui, menjadi ilmuwan adalah cita-citanya sejak kecil. "Saya selalu tertarik untuk mengerti bagaimana sesuatu bisa bekerja dalam level yang fundamental," ungkapnya.

Menurut dia, ketika belajar fisika, dirinya ingin mengetahui bagaimana alam semesta terbentuk. Sekarang, dalam bidang sosiologi, dia tertarik terhadap interaksi dalam sistem sosial.

Di Negeri Paman Sam dan belahan dunia lain, riset Roby cs banyak menjadi pembicaraan. Bukan hanya bagi media internasional, namun juga kalangan pakar serta akademisi. Responsnya beragam, mulai pro-kontra sampai yang mendukung serta menolak hasil riset tersebut.

Pengagum Richard Feynman, fisikawan pemenang Nobel, itu mengaku, lingkungan keluarganya sangat vital mengantarkan dirinya ke jenjang peneliti level global saat ini. "Saya mendapatkan inspirasi, terutama dari kedua orang tua saya. Ayah saya adalah ilmuwan pertama yang saya kenal. Dari beliau, saya belajar bahwa mendedikasikan diri pada ilmu bisa memberikan kepuasan tersendiri. Sedangkan Ibu saya menunjukkan bahwa pengabdian kepada keluarga dan masyarakat luas bisa menjadikan hidup kita berharga," jelasnya.

Roby merupakan anak bungsu di antara empat bersaudara pasangan Prof Dr Wahyu Karhiwikarta, spesialis kedokteran olahraga, dan dr Hanariah Wahyu, dokter spesialis anak. Saat ditanya alasan media global begitu antusias memberitakan risetnya, anak Bandung tersebut beralasan bahwa hasil penelitian mereka dimuat di jurnal ilmiah bergengsi, SCIENCE. "Juga, karena topik penelitiannya memang memancing rasa ingin tahu orang," ujarnya.

Lebih-lebih, eksperimen Roby cs merupakan eksperimen pertama yang dilakukan dalam skala global. Roby dkk menggunakan internet sebagai media, yakni peserta eksperimen diminta mengirimkan e-mail ke target. Di situ, tersedia 18 orang target dari berbagai negara, termasuk Nikaragua, Indonesia, Australia, dan Kroasia.

"E-mail harus dikirimkan melalui website kami. Sehingga, kami bisa melacak perjalanan pesan-pesan tersebut. E-mail hanya bisa dikirimkan kepada seseorang yang dikenal. Orang yang menerima pesan harus memverifikasi bahwa dirinya mengenal si pengirim dan meneruskan pesannya kepada orang lain yang dikenalnya, begitu selanjutnya," jelasnya.

Roby yang mempunyai website pribadi: http://smallworld.sociology.columbia.edu/~roby itu menyilakan netters Indonesia ikut berpartisipasi dalam risetnya. Publik di tanah air bisa mengikutinya lewat http://smallworld.columbia.edu.

Roby menjelaskan, eksperimen yang dikembangkan dari tesis masternya tersebut berkaitan dengan jaringan sosial (social networks). Menurut dia, itu merupakan hal yang sangat penting jika orang ingin meneliti banyak soal fenomena sosial. Misalnya, berbagai aplikasi berupa penyebaran informasi atau gosip yang bisa menghasilkan sebuah gerakan sosial.

"Yakni, tentang bagaimana krisis finansial bisa menyebar seperti yang terjadi di Asia pada 1997. Kapan suatu konflik sosial menyebar dan kapan bisa dibatasi. Atau, bagaimana tren bisa menyebar. Faktor apa yang menyebabkan sebuah buku atau musik bisa sangat populer. Juga, mempelajari penyebaran penyakit menular seperti SARS, HIV, atau TBC," ungkapnya.

Roby menetap di New York sampai studi S-3-nya selesai. Berarti, itu masih beberapa tahun lagi. Jika pulang ke Indonesia, dia ingin tetap menjadi peneliti di perguruan tinggi.

Nggak terpikir menjadi politikus? Siapa tahu, itu bisa menjadi resep penyembuhan penyakit sosial, politik, dan keamanan tanah air yang kompleks dan carut-marut ini.

"Saya tidak berpikir menjadi politikus atau praktisi di bidang politik atau sosial. Saya merasa lebih berguna jika saya tetap menjadi akademisi. Meskipun saya tertarik pada aplikasi ilmu, saya lebih fokus pada pengembangan ilmu itu sendiri," tegasnya. (*)

Sumber : Jawa Pos (25 Agustus 2003)


revisi terakhir : 28 Agustus 2003