fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Septinus George : Rumus Kiriman Telat
Redaksi

DALAM sehari, Septinus George "Oge" Saa menghabiskan waktu 20 jam untuk belajar. Ia sedang memantapkan diri untuk mempresentasikan rumus temuannya di Polandia, November mendatang. Maret lalu, hasil putar otak lelaki Papua kelahiran 22 September 1986 itu berhasil mengantarkannya meraih medali emas dalam ajang First Step to Nobel Prize in Physics. Dalam ajang kompetisi fisika internasional paling bergengsi tingkat SMU itu, Oge menulis penelitian berjudul "Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor".

Judul penelitian Oge terbilang sangat berat, karena materinya adalah konsumsi mahasiswa S-2 jurusan fisika. Tapi, berkat kerja kerasnya selama sembilan bulan, penggemar bola basket itu berhasil menciptakan rumus untuk menghitung hambatan pengganti di dua titik pada jaringan resistor segitiga dan segi enam. Padahal, menurut lulusan SMU Negeri 3 Buper di Jayapura itu, selama ini, dengan cara manual, susah sekali menentukan saat akan dipasang dalam bentuk seri, atau dalam bentuk paralel, menurut hukum Kirrcoff itu.

Oge lahir dari keluarga pasangan Nelce Waho, 40 tahun, dan Silas Saa, 48 tahun. Silas Saa saat ini menjabat sebagai Kepala Cabang Dinas Kehutanan di Sorong Selatan, Terminabuan, kota yang berjarak sekitar satu jam penerbangan dari Sorong. Sedari SD, Oge selalu meraih predikat I atau II di kelasnya. Ia tak ingin ketinggalan kelas barang sehari pun. Sewaktu SD, ia pernah menangis berjam-jam karena tak punya ongkos dan terpaksa membolos sekolah. Ia juga sering menunggak SPP karena kiriman uang dari orangtuanya telat. Tapi, semua kendala itu tak pernah memadamkan semangat belajarnya.

Sumber : Gatra (16 Agustus 2004)


revisi terakhir : 26 September 2004