fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Masatoshi Koshiba, Bidan Kelahiran Astronomi Neutrino
Lalu Hendra A. (Teknik Fisika ITB)

"Keberhasilan itu adalah 1 persen kejeniusan dan 99 persen kerja keras"

KUTIPAN ucapan Thomas Alva Edison, salah seorang penemu terbesar tersebut, menggambarkan kecerdasan bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai keberhasilan. Ketekunan dan kerja keras justru memegang peranan penting dalam memastikan langkah seseorang pada suatu bidang pekerjaan yang telah dipilihnya.

Selama puluhan tahun, hadiah Nobel menjadi simbol prestisius penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang mengabdikan dirinya bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pemberian hadiah Nobel terhadap seorang ilmuwan atau penemu dapat diartikan sebagai pengakuan masyarakat terhadap sumbangan orang tersebut terhadap ilmu pengetahuan.

Penerima hadiah Nobel diidentikkan sebagai orang-orang yang telah dari "sananya" jenius, tapi pada kenyataannya ada penerima hadiah Nobel yang menghasilkan penemuan berharga sebagai hasil dari keuletan dan kerja keras. Salah satunya adalah Masatoshi Koshiba yang merupakan salah satu teladan yang tepat untuk membuktikan kebenaran buah pikiran Thomas Alva Edison di atas.

Masatoshi Koshiba lahir pada 19 September 1926 di Kota Toyohashi, Jepang. Koshiba remaja bersekolah pada sekolah menengah atas di Yokosuka, namun kariernya sebagai murid tidaklah menggembirakan. Nilainya pada mata pelajaran eksakta jeblok dan lulus sekolah dengan nilai yang rendah. Kesenangannya sebagai anak muda saat itu adalah mendengarkan musik klasik dan membaca novel-novel sejarah, sehingga tak heran jika keinginan awalnya adalah menjadi musisi, atau masuk ke sekolah militer seperti yang dilakukan ayahnya.

Kesempatan Koshiba untuk berkarier di bidang militer tertutup ketika ia terkena penyakit polio, kira-kira sebulan sebelum ujian masuk sekolah militer. Namun justru pada saat itu juga kesempatannya menjadi seorang fisikawan menjadi terbuka, karena dalam masa-masa penyembuhan penyakitnya itu seorang guru memberinya buku yang menggugah minatnya dalam ilmu alam mengenai ide-ide seorang fisikawan terkenal, Albert Einstein.

Koshiba juga tergugah akibat komentar gurunya yang lain, ia tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika, karena nilainya pada mata pelajaran tersebut buruk.

Belajar fisika

Setamat dari sekolah menengah, Koshiba mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Tokyo University. Di tempat ini, ia belajar fisika seraya bekerja untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya.

Kesibukan dalam mencari tambahan ini membuat Koshiba tidak memiliki banyak waktu untuk hadir di setiap kuliah. Bahkan tak jarang ia hanya memiliki waktu untuk mengikuti satu kuliah saja dalam satu minggu. Walaupun dengan kondisi demikian, Koshiba akhirnya berhasil lulus pada tahun 1951.

Setelah lulus dari Tokyo University, Koshiba mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat. Dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya yang secara jujur menyatakan, "His results are not good, but he's not that stupid (hasil pendidikan selama kuliah tidaklah bagus, tapi ia bukan seorang yang bodoh)."

Koshiba pun diterima di universitas tersebut dan menamatkan pendidikannya hingga meraih gelar Ph.D. pada tahun 1955. Setelah beberapa tahun di AS, Koshiba akhirnya kembali ke Tokyo University untuk mengajar fisika selama sekira 29 tahun (sampai tahun 1987). Bahkan ia mendapat gelar profesor fisika.

Membuahkan Nobel

Saat bekerja di almameternya, Koshiba merancang dan membuat sendiri detektor KamiokaNDE. Alat tersebut secara sederhana merupakan pendeteksi neutrino matahari dan detektor Super KamiokaNDE yang merupakan tipe detektor yang sama, namun memiliki sensitivitas cahaya yang lebih baik dan digunakan dalam pengamatan neutrino matahari pada skala penuh.

Kamioka adalah nama sebuah tambang dan NDE kepanjangan Nucleon Decay Experiment (eksperimen untuk mengukur peluruhan nukleon). Koshiba dan timnya mengadakan percobaan pada kondisi 1.000 meter di bawah tanah, menggunakan kedua detektor itu untuk mengamati ledakan supernova, dan akhirnya berhasil membuktikan keberadaan partikel elementer yang disebut sebagai neutrino. Salah satu hasil pengamatan itu mendukung pikiran teoritis ledakan supernova dipicu kegagalan gravitasi. Hasil percobaan ini membuat lahirnya bidang penelitian baru yang penting dalam astrofisika, yaitu astronomi neutrino.(Berbagai sumber)***

Sumber : Pikiran Rakyat (23 Desember 2004)


revisi terakhir : 17 Maret 2005