fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Ekonofisika
Yohanes Surya

Umumnya orang berpandangan bahwa hubungan fisika dengan uang adalah seperti langit dan bumi. Fisika dianggap jurusan kering, tidak menghasilkan banyak uang.

Namun perkembangan cepat dunia mengubah dikotomi fisika dan uang. Makin lama fisika makin dekat dengan uang. Analisis di pasar uang internasional yang kian rumit membutuhkan banyak jasa fisikawan.

Pasar-pasar uang membuktikan bahwa lebih menguntungkan jika dapat memanfaatkan fisikawan dengan teori fisikanya untuk menganalisis suatu sistem dinamis yang rumit seperti saham, efek, valas ataupun derivatif.

Banyak bank dan institusi keuangan mempekerjakan fisikawan. Dengan kemampuan matematika, kemampuan komputer dan logikanya, para fisikawan mampu menganalisis masalah-masalah keuangan yang sangat kompleks.

Fisikawan yang bekerja di bidang keuangan (dikenal sebagai quants atau quantitave analyst) digaji sangat tinggi. Iklan di suatu majalah menuliskan "Wanted: an organized physicist with good modelling and programming skills, and a flair for communication. Salary: US$40 000 rising to US$150 000 after one year."

Tidak heran, kini fisikawan (termasuk John Sleath pemenang astronomy prize) banyak yang memasuki sektor keuangan. Banyak fisikawan yang membuka perusahaan sendiri dan menjadi enterpreneur seperti J.P Bouchaud dan Doyne Farmer.

Kiprah quants

Kebanyakan fisikawan bekerja di bidang keuangan sebagai analis kuantitatif (quants). Mereka mengamati kelakuan berbagai saham di masa lampau kemudian memprediksi nilainya di waktu mendatang.

Quants juga berkaitan dengan derivatif produk keuangan seperti future dan opsi. Dalam future, kita akan membeli sesuatu di waktu mendatang dengan harga yang ditentukan sekarang.

Dalam opsi, kita punya hak untuk membeli sesuatu pada harga yang diberikan di waktu mendatang. Dengan membuat model pasar efek, quants dapat menghitung harga yang cukup masuk akal untuk suatu derivatif.

Untuk menganalisis pasar, quants memilih berbagai model. Model yang sering dipakai banyak yang didasarkan pada model yang dikembangkan Bachelier pada tahun 1900-an. Model ini berdasarkan gerak acak (random walk). Persamaan Black & Scholes yang terkenal juga mempunyai hubungan erat dengan model Bachelier ini. Namun model Bachelier tidak mampu memprediksi adanya "crash".

Fisikawan memang membutuhkan model lebih kompleks untuk menganalisa begitu banyak data. Fisikawan harus mengembangkan intuisinya untuk memanfaatkan ide dan metode dalam fisika statistik - seperti critical phenomena, termodinamika, turbulence dan fenomena non-equilibrium lainnya - untuk mengembangkan analisis yang tepat untuk pasar yang sedang diamati.

Baru-baru ini C. Tannous dan A. Fessant mengklaim bahwa dengan teori pembakaran bahan bakar mereka mampu memprediksi perubahan mendadak nilai suatu saham. Proses pembakaran bahan bakar dapat tiba-tiba terjadi setelah perioda stabil yang cukup lama.

Hal itu, kata mereka, mirip kelakuan beberapa saham yang cenderung melompat setelah waktu cukup lama dalam kestabilan. Keduanya kemudian mengaplikasikan pengetahuan mereka tentang fisika condensed matter untuk mengamati fluktuasi dari beberapa saham ini.

Menurut mereka, penemuan ini dapat menolong pengalisa pasar untuk memprediksi kapan dan seberapa besar suatu saham akan naik dan turun setelah masa kestabilan yang cukup lama.

Tannous dan Fessan meneliti beberapa perusahaan besar dan kecil dari industri dan ekonomi yang berbeda sebagai sampel. Kemudian mereka memodifikasi persamaan proses pembakaran ini dan menganalogikan konsentrasi bahan bakar dengan harga saham.

Dengan menggunakan data lima tahun terakhir dari perusahaan-perusahaan itu, mereka menganalisis kapan saham melompat. Ternyata hasil analisis mereka cukup akurat dan sangat menggairahkan para analis untuk memanfaatkannya.

Selain model fisika statistik, ada yang lain seperti model gempa, model rangkaian listrik yang dikembangkan untuk menjelaskan terjadinya "crash" itu.

Takayasu dari Jepang membuat suatu rangkaian listrik dengan menggunakan amplifier, hambatan, hambatan geser, dioda dan kapasitor.

Output rangkaian ini kemudian digunakan untuk menjelaskan kelakuan statistik dari perubahan nilai valuta asing (yen terhadap US$). Banyak model lain terus dikembangkan untuk menganalisis pasar uang yang sangat dinamik ini.

Sayangnya, di Indonesia, penelitian ke arah fisika uang belum banyak dilakukan. Banyak fisikawan Indonesia tidak mengenal ekonofisika, suatu cabang baru fisika yang berkaitan dengan masalah ekonomi, terutama masalah keuangan.

Adanya prakarsa untuk mengadakan konferensi internasional ekonofisika di Jakarta dan Bali pada 27-31 Agustus 2002 patut kita sambut gembira. Kita harapkan konperensi ini dapat menjadi pemicu untuk pengembangan fisika uang atau ekonofisika secara umum di Indonesia.

Sumber : Bisnis Indonesia (14 Agustus 2002)


revisi terakhir : 24 Mei 2005