fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Gerhana Matahari dan Hilal di Awal Ramadhan
Hendro Setyanto (Observatorium Bosscha, Departemen Astronomi ITB)

Berbeda dengan sebelumnya, menjelang Ramadhan tahun ini ada gerhana matahari cincin. Fenomena itu terjadi Senin (3/10) ini, dan dapat disaksikan dari Spanyol, Portugal, Afrika, dan Samudra India. Sebagian kecil wilayah Indonesia (Aceh dan sekitar) dapat menikmati sebagai gerhana matahari sebagian menjelang Matahari tenggelam.

Inilah bonus bagi para perukyat hilal di Nanggroe Aceh Darussalam, yang hari itu akan menentukan awal puasa. Jika cuaca cerah dan Matahari tenggelam tidak tertutup awan, maka meskipun hilal tidak akan dapat dirukyat, para perukyat tetap akan melihat sebagian piringan Matahari bagian bawah tertutupi oleh piringan Bulan.

Di samping itu, karena fenomenanya terjadi ketika menjelang Matahari tenggelam, tidak diperlukan peralatan khusus untuk menyaksikannya. Namun, untuk keamanan mata, sebaiknya digunakan penapis cahaya untuk mengurangi intensitas cahaya Matahari yang masih cukup kuat.

Tahun 2005 terdapat empat gerhana: dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan.

Gerhana matahari terjadi tanggal 8 April 2005 dan 3 Oktober 2005. Gerhana matahari pada 8 April bertipe hybrid solar eclipse, yaitu gerhana matahari yang tampak sebagai gerhana total untuk sebagian wilayah dan tampak sebagai gerhana cincin untuk sebagian lainnya.

Gerhana 3 Oktober merupakan gerhana matahari cincin yang tergolong lama karena fenomena cincinnya yang membentang dari Samudra Atlantik hingga Samudra India tersebut berdurasi 3 jam 40 menit.

Gerhana bulan yang terjadi tahun 2005 adalah gerhana bulan penumbra, 24 April, dan gerhana bulan sebagian pada 17 Oktober. Gerhana bulan penumbra sulit dilihat mata manusia.

Adapun gerhana bulan sebagian pada 17 Oktober 2005 akan mencapai pertengahan gerhana pukul 19.03 WIB sehingga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk melihatnya. Namun, karena hanya sebagian kecil dari permukaan yang memasuki daerah umbra Bumi, maka tetap tidak mudah mengenalinya.

Definisi gerhana

Gerhana secara sederhana merupakan fenomena di mana bayangan sebuah benda menutupi benda lainnya. Dalam hubungannya dengan orbit Bulan mengelilingi Bumi, dikenal dua macam gerhana, yaitu gerhana matahari dan gerhana bulan. Gerhana matahari terjadi jika sebagian atau keseluruhan penampang Matahari ditutup oleh penampang Bulan, sedangkan gerhana bulan terjadi jika sebagian atau keseluruhan penampang Bulan ditutupi oleh bayangan Bumi.

Dengan kata lain, gerhana matahari hanya terjadi saat Bulan konjungsi dengan Matahari dan gerhana bulan terjadi ketika Bulan beroposisi dengan Matahari. Namun, karena kemiringan bidang orbit bulan 5° terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap konjungsi Bulan terjadi gerhana matahari. Demikian pula tidak setiap oposisi Bulan-Matahari terjadi gerhana bulan.

Dari perpotongan bidang orbit Bulan dan ekliptika, terdapat dua titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana Bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana akan terjadi jika saat Bulan berkonjungsi atau beroposisi berada di atau tidak jauh dari titik node tersebut.

Dalam faktanya Bulan perlu waktu 29.53 hari untuk bergerak dari satu posisi konjungsi ke konjungsi berikutnya dan dari oposisi ke oposisi berikutnya. Maka jika sebuah gerhana bulan/matahari terjadi, akan diikuti dengan gerhana matahari/bulan karena kedua titik node terletak pada garis yang menghubungkan Matahari-Bumi.

Karena sistem penanggalan Hijriah dari tahun ke tahun lebih cepat sekitar 11 hari dari sistem penanggalan Masehi, maka dari sisi astronomi gerhana di bulan Ramadhan merupakan fenomena biasa dan bisa terjadi.

Gerhana matahari pada dasarnya merupakan fenomena konjungsi yang terlihat, sedangkan konjungsi atau yang biasa disebut dengan ijtimak merupakan pertanda bergantinya bulan (month) dalam sistem penanggalan yang didasarkan pada fasa bulan seperti sistem penanggalan Hijriah. Maka gerhana matahari dapat menjadi acuan untuk menentukan posisi hilal yang sebenarnya merupakan sabit bulan.

Meskipun posisi bulan dapat diketahui dengan baik dari fenomena gerhana matahari, bukan berarti sabit hilal dapat dilihat dengan mudah. Bahkan, untuk kasus Ramadhan 1426 H sekarang pun, hilal mustahil dilihat bahkan dari Sabang.

Hilal awal Ramadhan

Dari saat terjadinya gerhana matahari (3 Oktober), dapat dipastikan bahwa konjungsi atau ijtimak akhir bulan Syaban 1426 H juga terjadi tanggal 3 Oktober 2005, tepatnya pukul 17.29 WIB. Pada tanggal tersebut, untuk wilayah Jakarta, Bulan akan terbenam sekitar tiga menit lebih cepat dari Matahari sehingga hilal tetap belum ada meskipun konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam.

Hilal pada tanggal 3 Oktober 2005 tidak dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, puasa awal Ramadhan 1426 H akan diawali pada tanggal 5 Oktober 2005.

Akan tetapi, untuk wilayah Mekkah-Madinah, yang juga dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian, Matahari akan tenggelam sekitar tiga menit lebih cepat dari Bulan. Dengan demikian, jika Mekkah menggunakan kriteria wujudul hilal, maka masyarakat Arab Saudi akan mengawali puasa Ramadhan 1426 H tanggal 4 Oktober 2005.

Dengan kata lain, dalam penanggalan Masehi umat Islam di Arab Saudi berpuasa satu hari lebih cepat dibandingkan dengan umat Islam di Indonesia. Dari sudut pandang astronomi, hal ini merupakan fenomena yang wajar dan bisa terjadi.

Namun, jika kriteria penanggalan Arab Saudi didasarkan pada rukyat hilal, maka posisi hilal di Arab Saudi (0deg 21 m) juga mustahil untuk dirukyat sehingga umat Islam di Arab Saudi akan mengawali puasanya tanggal 5 Oktober 2005 seperti di Indonesia.

Akan tetapi jika ada kesaksian rukyat palsu pada tanggal 3 Oktober 2005 yang diterima oleh Pemerintah Indonesia, maka ceritanya akan seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu terjadi perbedaan dalam mengawali puasa Ramadhan.

Karena Ramadhan 1426 H yang diawali dengan fenomena gerhana matahari sebagian hanya dapat disaksikan di Nanggroe Aceh Darussalam dan sekitarnya, mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik bagi nota kesepahaman perdamaian Aceh yang sudah mulai diimplementasikan. Karena ini digabung dengan puasa yang dimulai 5 Oktober, Hari TNI, maka mudah-mudahan puasa kali ini membawa berkah, ampunan, dan ketenteraman bagi seluruh rakyat di Nanggroe Aceh Darussalam. Selamat menunaikan ibadah puasa 1426 H.

Sumber : Kompas (3 Oktober 2005)


revisi terakhir : 5 Oktober 2005