fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Richard Phillips Feynman (1918-1988) : Cintalah yang Paling Penting, bukan Fisika
Ismail

KEHIDUPAN para ilmuwan mungkin kurang menarik perhatian. Banyak orang menganggap mereka hanya berkutat antara perpustakaan dan laboratorium. Tipikal profesor selalu digambarkan memakai kacamata dan pikun. Namun, jika Anda mengenal hidup para ilmuwan lebih dekat, terdapat sejumlah ilmuwan yang memiliki kehidupan dan karakter menarik. Salah satunya adalah Richard Phillips Feynman.

Para pemirsa televisi mungkin masih ingat, pada era 1990-an terdapat sebuah serial televisi yang menggambarkan sosok ahli fisika, yaitu MacGyver. Saat itu, MacGyver sangat disukai karena memiliki pengetahuan yang selalu dapat membuatnya keluar dari masalah. Seorang Feynman tidak jauh dari sosok MacGyver. Dalam foto sampul buku "Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika", terbitan Mizan, dapat dilihat gambaran sosok Feynman yang sedang tertawa sembari memegang sebuah bola model atom. Membaca bukunya, kita akan berkenalan dengan seseorang yang lucu, jahil, tegas, dan tentu saja cerdas. Dari memecahkan kombinasi kunci lemari besi para koleganya hingga memecahkan kode astronomi orang Indian, Feynman melakukannya dengan keringanan seorang periang. Tidak heran jika banyak koleganya yang mengagumi dan menyenangi Feynman.

Feynman lahir di Far Rockaway, Queens, New York pada 11 Mei 1918. Kebiasaannya untuk menggali pengetahuan hingga dasar diajarkan oleh ayahnya. Sementara, sisi humoris Feynman diturunkan dari sang ibu. Setelah dewasa, Feynman selalu memegang teguh apa yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Feynman mengembangkan sikap anti terhadap semua bentuk otoritas dan selalu berbicara dengan jernih dalam masalah apapun. Feynman mendapatkan gelar sarjananya dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 1939. Ia melanjutkan kuliah doktornya di Princeton University dan meraih gelar Ph.D. pada 1942.

Seperti juga para fisikawan lain pada masa Perang Dunia II, Feynman tergugah untuk masuk ke dalam sebuah projek pembuatan bom atom di Los Alamos. Ia merasa bahwa jika Jerman lebih dulu megembangkan bom atom, dunia akan terancam oleh fasisme Hitler. Setelah Perang Dunia II, Feynman bekerja di Cornell University. Namun demikian, ia merasa Cornell bukan tempat yang cocok untuknya. Ia memilih pindah ke California Institute of Technology (Caltech).

Feynman tidak menyukai fisika murni teoritis. Ia harus selalu merasa masuk ke dalam dunia yang sebenarnya. Oleh karena itu, ia selalu bekerja dengan memperhatikan hasil eksperimen terbaru. Hal inilah yang kemudian membuatnya menolak tawaran dari Institute for Advanced Study, Princeton, untuk menjadi profesor di sana. Bagi Feynman, kehidupan orang-orang yang dibayar tinggi hanya untuk duduk dan memikirkan sesuatu luar biasa membosankan. Ia selalu merasa senang mengajar. Jika ia tidak sedang berada dalam kondisi produktif, Feynman bersyukur ia masih dapat berdiri di depan kelas dan menghadapi siswa-siswanya. Feynman adalah seorang pengajar yang baik. Ia disebut sebagai great explainer.

Sumbangan Feynman terhadap ilmu fisika luar biasa banyak. Siapa pun yang mempelajari medan kuantum, dipastikan akan selalu berhadapan dengan Feynman karena banyak sekali teori yang ditemukannya dalam bidang tersebut. Feynman juga memberi sumbangan bagi perluasan cakrawala pengetahuan manusia dengan idenya mengenai komputer kuantum. Hadiah Nobel didapatkan Feynman pada tahun 1965 atas kerjanya dalam teori elektrodinamika kuantum.

Kasus Challenger

Selain menguasai fisika teori, Feynman juga menguasai bidang teknik. Pada tahun 1986, Feynman diminta untuk menjadi penyelidik pada kasus kecelakaan pesawat Challenger. Dalam sebuah acara televisi, ia melakukan demonstrasi sederhana menggunakan air es dan benda berbentuk cincin untuk menunjukkan kesalahan yang terjadi pada konstruksi pesawat Challenger. Pendapat Feynman mengenai sebab kecelakaan pesawat Challenger ini berbeda dengan pendapat dewan resmi. Laporan Feynman hanya digunakan sebagai lampiran dalam laporan resmi. Mengenai hal ini, Feynman hanya berucap bahwa untuk sebuah kesuksesan teknologi, realitas harus menjadi nomor satu daripada sekadar citra di depan publik, karena alam tak bisa dibohongi. Feynman selalu merasa muak dengan orang bego yang sok.

Itulah sosok Feynman yang jujur dan cerdas. Selama hidupnya, Feynman banyak sekali memberi inspirasi bagi kehidupan orang lain. Buku mengenai dirinya telah ditulis dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Begitu pula film mengenai dirinya. Hidup Feynman yang penuh dengan keceriaan akhirnya berakhir pada tanggal 15 Februari 1998 akibat kanker yang dideritanya. Dalam salah satu surat yang ditulis untuk kenalannya, Feynman menulis:

"Dear Mrs. Chown, Ignore your son's attempts to teach you physics. Physics isn't the most important thing. Love is. Best wishes, Richard Feynman."

Sumber : Pikiran Rakyat (11 Mei 2006)


revisi terakhir : 22 Juli 2006