fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Komunitas Langit Selatan : Membumikan Astronomi
Endah Asih

ALAM semesta yang tak berbatas, selalu meninggalkan decak kagum dan pertanyaan yang tak ada habisnya. Ketertarikan yang tinggi terhadap jagat raya, membuat banyak orang mencari tahu dengan caranya sendiri. Ada yang hanya sekadar tertarik memperhatikan langit, hingga meneliti dan mencari referensi untuk menjawab rasa ingin tahunya.

Sepintas, ilmu astronomi dianggap tak populer di Indonesia. Eksklusif, hanya bisa dimengerti sebagian kecil orang. Namun, ada keunikan yang dirasakan. Mempelajari astronomi tak hanya membuat seseorang tinggal di bumi. Ia bisa "merasa berada" di luar bumi--bahkan belahan langit lain-- saat menelaah astronomi.

Coba lihat langit di malam hari. Kalau cuaca sedang bersahabat, taburan bintang dan jutaan benda langit yang siap menyambut saat Anda mendongakkan kepala, menyimpan ribuan misteri. Mengapa ia ada di sana? Bagaimana ia ada di sana? Sampai kapan ia ada di sana?

Itu sebagian kecil hal yang membuat banyak orang kemudian merasa tertantang untuk mempelajari lebih dalam. Tak puas hanya sampai di situ, beberapa orang kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi mengenai objek langit. Setidaknya, mengumpulkan orang-orang yang punya hobi serupa.

Begitu juga dengan Komunitas Langit Selatan. Berawal dari lima alumni mahasiswa jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), cikal bakal komunitas ini mulai terbentuk. Saat lulus, mereka tak lagi bergabung secara organik dengan Himpunan Mahasiswa Astronomi (Himastron).

"Lagi pula malu juga sih, masa udah lulus masih eksis aja di Hima. Selain itu juga mau memperkenalkan secara luas tentang astronomi, kalau dalam lingkup Hima kan hanya terbatas untuk mahasiswa aja," kata salah seorang pendiri Komunitas Langit Selatan Avivah Yamani, saat ditemui di salah satu kafe yang terletak di Jln. Purnawarman Bandung, beberapa waktu lalu.

Saat itu, nama perkumpulan pencinta astronomi ini belum menjadi Komunitas Langit Selatan. Mereka memulai perjalanan dengan berdiri di bawah bendera Rigel Kentaurus (merupakan nama lain dari Alfa Kentaurus), atau biasa disingkat Rig-K. Bintang ini diabadikan dalam nama yang mereka sandang karena keunikan yang dimiliki. Rigel Kentaurus adalah bintang terterang ketiga yang bisa nampak dari bumi, walau dengan mata telanjang sekalipun. Ia adalah bintang ganda yang jika dilihat lewat mata telanjang hanya tampak satu bintang, namun jika dilihat lewat teleskop akan terlihat dua bintang.

"Nah, filosofi selanjutnya sama Ferry aja deh, dia tuh yang mikirin gitu-gitunya," kata Vivie--panggilan akrab Avivah-- sambil menoleh sosok pria di depannya, Ferry M. Simatupang.

Pria yang juga merupakan salah seorang pendiri, langsung menjelaskan dengan bersemangat. Ferry yang juga merupakan salah seorang dosen jurusan Astronomi ITB, menyebutkan gambar manusia setengah kuda sebagai lambang. "Sampai gambar penampakannya secara detail, lalu kemiringannya seperti apa bisa menunjukkan jam sekian dan tanggal sekian lho, supaya astronomis banget, dan supaya sense of astronomic-nya tetap terjaga. Pengennya sih ilmu dan hobi bisa sejalan," kata Ferry.

Media

Tak ingin hanya sebatas memiliki perkumpulan yang tanpa hasil konkret, mereka kemudian memutuskan untuk lebih melakukan sesuatu yang kegunaannya bisa sampai ke masyarakat. Dengan konsep awal "Astronomy is Fun!", Rig-K ingin membumikan astronomi di kalangan masyarakat. Mereka berpikir, sudah saatnya sains menjadi bagian menyenangkan untuk dipelajari dan dipahami.

Pada 2004, Rig-K memulai pembuatan situs online dengan alamat www.centaurusonline.com untuk memuluskan tujuan tersebut. Satu tahun kemudian, mereka mencoba mencari format media lain. Bentuk majalah dirasakan cocok, dan kemudian terbitlah "Centaurus".

"Ternyata susah, jadi bisa dibilang terbitan pertama kami gagal. Nah, sambil belajar lebih banyak tentang media cetak, akhirnya kami balik ke situs online. Yang penting, nama kami ada dulu lah, supaya masyarakat tahu keberadaan kita," kata Ferry.

Namun, situs tersebut kemudian juga dihentikan karena menemukan kendala dalam hal pengelolaan. "Gile aja, dulu kan spam privacy belum kayak sekarang. Tiap hari dapet minimal 500 spam, males juga contrengin satu-satu, akhirnya ya didiemin aja. Eh, lama-lama nama itu udah dibeli yang lain," kata Vivie sambil tertawa.

Langit Selatan

Menyadari hal tersebut, mereka mulai berbenah. Semua dimulai dengan pencarian nama baru. Syaratnya hanya tiga, istilah astronomi, berbahasa lokal, dan ear-catchy. "Ini dia nih yang nyari dan dapet," ujar Vivie, lagi-lagi menunjuk Ferry.

"Akhirnya kita sepakat pakai nama Langit Selatan. Soalnya ilmu astronomi itu kan sangat berkembang di negara maju, which is di negara-negara barat seperti Amerika dan Eropa yang ada di belahan langit utara. Dan bagi mereka, langit selatan itu eksotis karena mereka tidak bisa melihat belahan langit itu dari sana," kata Ferry menjelaskan.

"Karena namanya bagus, akhirnya kita setuju banget. Habisnya usulan nama dia aneh-aneh sih. Misalnya pernah juga No.ong.com, apalagi itu? Oh pernah juga ada yang nyeletuk, kenapa enggak Ratu Langit Selatan aja?" kata Vivie sambil tertawa.

Berbasis dunia maya, Komunitas Langit Selatan semakin banyak dikenal. Di dalamnya, hadir berbagai informasi seputar perkembangan astronomi, dan hal-hal menarik lainnya. "Enggak sengaja jadi komunitas sih sebenarnya. Karena banyak yang masuk, akhirnya join jadi member dan jadi ajang diskusi," ucap Vivie, sambil menyebutkan jumlah anggota yang kini mencapai tiga ratusan orang.

Selain menjadi media komunikasi dan edukasi lewat dunia maya, mereka juga membumikan astronomi lewat pengajaran dan pelatihan astronomi di lapangan. Sejak 2008 mereka bergantung pada asosiasi Global Hands on Universe, salah satu asosiasi internasional dalam hal pengembangan dan pengajaran astronomi bagi guru dan siswa.

Tahun ini, Komunitas Langit Selatan juga menjadi bagian dari Galileo Teacher Training Program, yang merupakan program untuk memberikan pelatihan astronomi praktis pada guru. Mereka juga terlibat dalam "You Are Galileo" Program, yang merupakan program teleskop kecil dan murah yang dapat dijangkau semua orang untuk digunakan dalam pengamatan.

Tujuan lainnya adalah merasakan kembali pengalaman menjadi Galileo saat ia mengarahkan teropongnya ke angkasa karena teleskop tersebut didedikasikan untuk mengamati objek-objek yang pernah diamati Galileo. "Kalau kemarin orang yang ingin tahu astronomi harus ke planetarium atau Bosscha, sekarang kita yang datengin mereka," ucap Vivie.

Sumber : Pikiran Rakyat


revisi terakhir : 3 Agustus 2009