fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

Yohanes Surya Melayani Bangsa dengan Fisika
Indah Winarso

BILAKAH gravitasi menahan air laut? Mengapa mobil yang melaju, roda seakan berputar ke belakang? Kenapa menguap kadang menular? Hal-hal itu dengan tangkas dijawab oleh Prof Yohanes Surya. Dia berusaha mendidik bangsa Indonesia dalam soal ilmu pengetahuan dan teknologi dengan gaya bahasa yang mudah dicerna.

Siapa Yohanes Surya?

Nama lengkap dan gelarnya adalah, Professor Yohanes Surya Ph. D. Seorang fisikawan Indonesia lulusan William and Mary College Virginia(USA). Namanya sangat identik dengan fisika. Setiap kontingen pelajar Indonesia yang menang di olimpiade fisika atau matematika di mancanegara , Yohanes Suryalah sosok dibaliknya. Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang digagasnya, telah mengikuti berbagai lomba ilmu pengetahuan dan menghasilkan banyak juara di tingkat internasional..

Lahir di Jakarta, tanggal 6 November 1963 dari keluarga keturunan Tionghoa. Ekonomi mereka sangat sederhana. Sejak belia dia bantu ibunya membuat kue. Ketika kuliah di UI (Universitas Indonesia) jurusan fisika, sering harus menahan lapar karena tak ada uang untuk makan siang di kampus. Mengambil jurusan fisika karena yakin, bahwa saingan di bidang itu sedikit dan dia berhasil mendapat beasiswa Supersemar.

Keterbatasannya di bidang ekonomi, dipakainya menjadi titik balik semangatnya. “Saat itu saya melihat peluang mendapat beasiswa S2 di luar negeri. Tapi kemampuan bahasa Inggris waktu itu terbatas sekali, saya mensiasatinya dengan cepat-cepat mengurus paspor”, katanya.

Beasiswa belum di tangan tapi mengurus paspor. Apa hubungannya? Rupanya dia berfikir melampaui mahasiswa lainnya. Benar sekali dugaan Yohanes Surya muda. Ketika beasiswa ditawarkan, pihak donor menanyakan: siapa yang punya paspor? Yohanes Surya berada di urutan prioritas. Hanya dia yang punya. Kemampuan bahasa Inggris, dikayuhnya kemudian.

Kecerdikannya mensiasati hidup tak hanya itu saja. Dia mendapati, salah satu kewajiban penerima beasiswa adalah harus menjadi asisten dosen di tempat belajar S2 kelak. “Artinya saya harus mengajar. Gak percaya diri dengan bahasa Inggris saya,” kata Yohanes, dan menambahkan bahwa dia berpikir keras dan terus mensiasatinya lagi. “Tahun itu, saya belajar mati-matian, untuk mendapat beasiswa S3″, jelasnya.

Jadi dia berencana mengambil S2 dan langsung S3 di universitas yang sama. Dengan begitu, dia meminimalisir kewajiban mengajar mahasiswa. Jauh kemudian, kecerdikannya dia konsepkan dan lahirlah sebuah buku yang jadi bestseller di Indonesia. Diberi judul Mestakung . Kepanjangan dari seMESTA menduKUNG. Menurutnya, ini hukum alam, dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis, maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan di sekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.

Setelah bergelar Ph.D., Yohanes Surya menjadi Consultant of Theoretical Physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility) Virginia – Amerika Serikat (1994). Walaupun sudah punya Greencard(kartu penduduk tetap AS) Yohanes Surya pulang ke Indonesia.

Melayani bangsa dengan fisika

Yohanes Surya adalah tokoh di Indonesia yang mendekatkan fisika dengan masyarakat.Dia keliling Indonesia untuk seminar dan pelatihan bagi banyak guru matematika dan fisika. Ketika orang berfikir, bahwa fisika atau matematika itu rumit dan sulit, Yohanes Surya menepisnya. Dia berusaha menyederhanakannya ketika bertemu dengan masyarakat.

Menurutnya, tak ada murid bodoh, “ Yang ada, adalah murid yang tidak punya kesempatan bertemu dengan guru yang baik”. Dia menekankan betapa pentingnya pengajaran yang berlandaskan cara mengajar yang positif. Menyemangati siswa dan tidak memperpuruk jiwa murid. Dia mendapat anugerah Lencana Satya Wira Karya (2006) dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun yang sama, ia terpilih sebagai wakil Indonesia bidang pendidikan untuk bertemu Presiden Amerika Serikat waktu itu, George W. Bush.

Sejak tahun 2009, Prof. Yohanes Surya bekerjasama dengan beberapa Pemerintah Daerah Tertinggal di Indonesia untuk mengembangkan matematika GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan). Anak-anak daerah tertinggal itu dapat belajar matematika dengan mudah. Siswa yang dianggap “bodoh” ternyata mampu menguasai matematika kelas 1-6 SD hanya dalam waktu 6 bulan. Program ini sekarang diimplementasikan diberbagai daerah tertinggal terutama di Papua. Dibawanya beberapa anak Papua, belajar sains di Jakarta. Kenapa Papua ? “Di Papua, fasilitas pendidikan masih sedikit”, ujarnya.

Saat ini Yohanes Surya menjabat sebagai Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Universitas ini didirikan oleh Kelompok Kerja Gramedia (KKG) Group dengan tujuan sebagai universitas riset yang fokus pada bidang ICT (Information Communication Technology).

Diharapkan mahasiswa Indonesia brilian yang sekarang belajar di luar negeri dapat melanjutkan dan mengembangkan risetnya di UMN. Hal ini juga didasarkan kenyataan, bahwa banyak sekali orang Indonesia yang sedang belajar di luarnegeri , tak mau pulang ke Indonesia. Lantaran Indonesia tak cukup kesanggupan untuk menampung kemampuan mereka. Tahun 2008 UMN membuka lowongan untuk 25 peneliti (Ph.D) dalam bidang ICT. Prof. Douglas Osheroff peraih Nobel Fisika bersedia menjadi penasehat universitas itu.

Sumber : Journal Bali, 6 Maret 2011


revisi terakhir : 12 Maret 2011