• PESAN DAN TANGGAPAN :

    Banyak PTS tak Tertarik Buka Ilmu Eksakta Murni
    Oleh : PR Bdg
    Rabu, 16 Maret 2005 (08:32 WIB) dari IP 202.153.239.106

    Perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Barat dan Banten kurang tertarik untuk mengembangkan program studi atau pembukaan Fakultas Peternakan dan Pertanian, maupun ilmu eksakta murni lainnya. Pasalnya, pembukaan program studi tersebut membutuhkan dana yang cukup besar, terutama berkaitan dengan penyediaan fasilitas praktik dan laboratorium.

    Pernyataan tersebut diungkapkan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Prof. Dr. H.NM. Djawad Dahlan kepada "PR", belum lama ini. "Tidak sedikit program studi sekarang ini yang sudah jenuh, karena hampir semua PTS membukanya. Namun pada sisi lain, ada program studi yang masih kurang diminati PTS, hingga belum bisa dikatakan jenuh," katanya.

    Berbagai program studi yang rata-rata sudah dibuka oleh PTS tersebut seperti Fakultas Ekonomi, Fisip, ilmu komputer dan teknik informatika, serta bahasa asing. "Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas sendiri kerap menolak usulan pendirian program studi baru, yang dinilai sudah jenuh. Hal tersebut terutama program studi ilmu sosial, sedangkan ilmu eksakta peluangnya masih terbuka lebar," katanya.

    Meski Dirjen Dikti kurang memahami mengenai batasan program studi yang sudah jenuh dan tidak jenuh, namun Djawad Dahlan mengakui, perbandingan jumlah program studi ilmu sosial dengan ilmu alam mencapai 1:6.

    "Jadi bandingannya, ada enam program studi ilmu eksakta dan hanya satu program studi ilmu sosial. Padahal, kalangan perguruan tinggi di luar negeri, malah lebih banyak memilih atau membuka program ilmu sosialnya," katanya.

    Terbentur biaya

    Lebih jauh ia menyatakan, pada zaman BJ Habibie menjadi Menristek misalnya, presiden berupaya memperbanyak pembukaan program studi ilmu alam, termasuk penggalakan program pengiriman mahasiswa dan dosen ke luar negeri.

    "Pada sisi lain PTS sendiri merasa kesulitan untuk menyediakan anggaran, dalam rangka mendirikan atau membuka program studi eksakta murni. Misalnya Fakultas Biologi, Matematika, Fisika, maupun Kimia. Sebab untuk mendirikan laboratorium membutuhkan dana yang cukup besar," katanya.

    Di samping itu, lanjut Djawad, lowongan kerja terhadap para lulusan eksakta murni pun terbilang masih terbatas. Sehingga para lulusannya lebih banyak yang terserap untuk dijadkan sebagai peneliti di laboratorium maupun dosen atau guru. Belum lagi dengan munculnya anggapan khususnya di kalangan lulusan SLTA, bahwa ilmu eksakta murni sulit untuk dipelajari. Akibatnya, para lulusan SLTA kurang tertarik untuk masuk pada program studi ilmu eksakta murni.

    Akibat yang lebih jauh, dengan perbandingan yang tidak seimbang tersebut, menurut Djawad Dahlan, memunculkan cara berpikir yang berbeda antara lulusan ilmu alam dan ilmu sosial.

    "Para lulusan ilmu alam dinilai relatif rasional dan logis cara berpikirnya. Sedangkan para lulusan ilmu sosial lebih menonjolkan sisi spiritual dan sisi emosional. Dampak lebih lanjut atas kenyataan tersebut, para pencari lapangan kerja pun nyatanya lebih banyak didominasi oleh mereka yang tercatat sebagai lulusan ilmu sosial," katanya.

    Sementara kurang tertariknya PTS untuk membuka Fakultas Peternakan maupun Fakultas Pertanian, katanya, lebih disebabkan karena PTS bersangkutan harus menyediakan lahan cukup luas untuk penyelenggaraan praktek mahasiswanya.

    "Untuk Fakultas Peternakan dan Pertanian misalnya, pasti membutuhkan tanah yang cukup luas untuk dijadikan tempat praktek. Tentunya penyediaan tanah dan hewan ternak dalam jumlah besar, akan semakin memberatkan anggaran PTS yang bersangkutan," ungkapnya.

    Belum lagi dengan adanya anggapan di kalangan masyarakat, bahwa masalah pertanian dan peternakan tidak perlu dipelajari secara serius karena ilmunya dinilai sudah turun temurun. Padahal, Indonesia sendiri terutama Jawa Barat merupakan daerah agraris dan unggul dalam bidang ternak, seperti susu perah dan peternakan domba.

    "Kenyataannya, hingga sekarang ini sektor peternakan di beberapa daerah masih dikelola secara tradisional, dan kurang mendapat perhatian dan sentuhan dari kalangan perguruan tinggi," katanya. (A-71)***

    PR 3 Januari 2005


  • fisik@net (ISSN 2086-5325) http://www.fisikanet.lipi.go.id

    revisi terakhir : 16 Maret 2005